Senin, 29 Desember 2014

Sya,

“Sya, lagi apa-apaan si kamu?” saut DJ sahabatnya.
“kenapa? Gimana?” balas Marsya polos.
“gak kenapa-kenapa gimana? Berangkat kuliah, tidur dikampus oke masih diterima. Ngejailin temen-temen oke lah, walau kemarin itu kamu agak kebangetan. Masa kamu mbohongi Si Mia kalau ada tugas. Dia kelabakan tahu.aku jadi ikut-ikutan. Udah gitu frekuensi njailinmu udah dalam taraf tinggi lagi. Anak tutor juga kena katanya. dosen, gila kali lu ya? Kemaren kuliah pulang gasik gara-gara kamu kan? Kamu ngilangin beberapa slide materi di komputer kampus. jadi yang harusnya bisa lebih dari 15 slide, kamu hapusi jadi tinggal 6 slide, dah gitu kamu bikin slide baru, kamu tulis Bu Enda cantik? Itu kamu kan.pesti kamu. Gila kamu. ga waras banget sih?”
“emm,,,” belum selesai Marsya berucap, DJ yang sebenarnya nama aslinya Dwi Jayanti melanjutkan “Kelakuan jorokmu makin menjadi. Masa pilek-pilek kamu pelihara tiga minggu. Udah gitu mbersihinnya pake kertas lagi. Ah, parah lu!”
“gini,,, maksudku . . . “
“tadi, aku tanya anak-anak. Kamu lebih banyak menghilang. Diem-diem ternyata lagi sendiri. Kamu pergi ke perpus sendiri. Fotocopy sendiri. Ke mesjid sendiri, dikelas juga sering sendiri. Ke ruang dosen juga sendiri. Biasanya sama Atsar. Dia kemana sih? Kamu balik ke Marsya yang dulu sih. Aku ga kuat lihat kamu yang kaya gini.” Saut DJ masih tetap melanjutkan celotehnya.
“aku boleh ngomong gak nih? Dari tadi mau ngomong di tabrak terus. Udah seminggu gak ketemu, datang-datang malah gini. Males ah aku.” Kata Marsya.
“ Aaaahhhhhh, Marsya, aku kan kawatir ama kamu. Abis aku kata anak-anak gitu. Apa karena habis ditinggal aku ya?” saut DJ dengan suara khasnya yang cempreng abis.
“ Hadeh. Ya boleh. Sebombongmu J. Ibu gimana? Dah sehat?”
“Udah alhamdulillah. Lha aku udah disini lagi kan. Sekarang balik kepertanyan. kamu kenapa? jangan nyelimur dah.”
“ Hahaha,,, kenapa apanya sih? Aku biasa aja kali. Soal Mia, aku ngerjain dia ya asal aja. Tapi setelah itu aku bilang aku bohongi dia koh. Masalah anak tutor, habis aku sering nungguin mereka. Aku sekali-kali kerjain mereka boleh aja donk. Masalah bu Enda, hehe. Abis kuliah jam setengah 1 baru dateng jam 1. Kita kan kesel, udah gitu ngajarnya kaya ga niat gitu. Ya aku cuma tahu isi hati anak-anak. Akhirnya aku sedikit hapus slide-slidenya. Cuma beberapa kok, itu juga tadi beberapa anak pada setuju. Setelah itu, ya aku memuji Beliau agar ga marah. Udah gitu doank. Oh ya, masalah jorok? Kaga lah. Orang aku minta tisu pada ga punya. Ya udah mau gimana. Masa pakai baju mbersihinnya?”
“tetep ga bisa diterima. Kenapa sih?cerita sih. Terus Atsar kemana? Nanti aku marahin kalau ketemu. Dia membiarkan dirimu sendiri. Aku tak terima.” Saut DJ, alaynya makin menjadi.
“aja lebay J. Dia jarang berangkat. Lagi bertapa kayanya. Aku mau gak mau sering TA-in dia. Habis aku risih, absenku hampir penuh, dia sendiri cuma baru satu. Masalahnya dibawah persis J. Kan jadi ga enak dilihat. Kesannya aku kerajinan berangkat kuliah.”
“halah, yang ada Atsar yang keterlaluan Sya. Dia kenapa sih? Apa dia frustasi lihat kamu kayagni?hehe. Kamu kenapa koh? Cerita sih?”
“ haha, kayagini gmn sih. Kaga. ga kenapa-kenapa aku. kalem bae sih. Hm, aku pulang yaaa.”
“baru ketemu langsung pulang? Entar aja sih. Main kekosan sini. Ibu kost nanyain tuh.”
“hahaha,,, besok-besok lgi ya, kamu katanya ada rapat. Ya elah, ibu kost ga mungkin nanyain aku. Mungkin nanya ke kamu kali. Kamu bayar kostannya mau kapan? Wkwkwk”
“ ihiiiii,, Marsya. Tau aja deh. Hihihihihihi. Yaudah, kamu baik-baik aja loh ya. Kalo ada apa-apa langsung kekosan. Langsung pulang loh. Jangan mampir-mampir.”
“ hm”

Ya. Gadis itu, ia sebenarnya tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia tak sengaja merubahnya. Semua mengalir saja. Hampir setiap tempat ia datangi. Disitu selalu ada tanda tanya. Kamu lagi kenapa?
Ia heran kejadian di tempat tongkrongannya juga gitu. Bu Toha sampai-sampai ngenes. Ia hanya bisa memberinya segelas teh dingin, minuman kesukaannya. Tanpa banyak bertanya, lalu Bu Toha berucap ” Kalau habis, ambil aja sendiri. Mau dihabisin itu persediaannya juga gak papa. Gratis pokoknya. Ga menerima pembayaran dari mba Marsya. Itu makanannya juga dimakan aja”. Si dul pun ikut-ikutan, “ambil aja tuh batagornya. Di enakin aja Sya. Mau tiduran apa selonjoran disitu aja. sambil menunjuk teras depan SD. Kamu istirahat sanah. Oh ya, Melisa nyariin kamu”.

Gadis itu semakin tak mengerti. Ada pa sih dengannya? Menurutnya dia biasa-biasa aja. Puncaknya saat ia sedang bekerja. Teman sekaligus adik iparnya, haha. Dia mengaku menjadi adik iparnya. Sejenak ia berfikir. “Aku sudah punya kaka ipar. Adik ipar. Lantas aku? Hahaha. Lupakan.”
Kembali lagi, adik iparnya berkata. “ kalau gak kuat pulang aja mba. Jangan dipaksain. Istirahat sana.”
“Aku kuat kok. Aku kan stronger. Hehe” Marsya hanya membalas seperti itu.
Dan alhasil, beberapa jam kemudian. BAMM. Gadis itu terjatuh, tergolek lesu. Tak berdaya. Ia mencoba membuat badannya kembali tegak. Sayang, ia terlalu lemah. Ia hanya berkata pelan pada tubuhnya. “Ada apa denganmu?”
Akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Dan saat diperjalanan pulangnya. Gadis itu meneneteskan air matanya. Ia menangis, menangis lepas bersama dengan turunnya rintik hujan. Tak tahu kenapa ia keluar lagi. Tetapi yang pasti ia sedikit bahagia.
Karena air matanya cepat hilang, memudar pergi bersama air hujan.

                                                                                231114 :23:19:23

Rabu, 17 Desember 2014

Thank.


hari ini begitu mengejutkan. benar. memang benar, hari esok selalu misterius. aku hanya bisa tersenyum kecut. tak apa. aku terima Tuhan. aku selalu berusaha menjadi segoro. samudra. bukan hanya secangkir kopi. aku akan menjadi sangat luas melihat semuanya.

hm, mungkin. ini yang terakhir. benar-benar terakhir dari kisahku. aku tak sanggup meneruskan. oh Tuhan, terimakasih, hampir-hampir Kau selalu memberiku ilmu, kawan dan apapun itu yang membuatku terus mempelajari arti hidup dan membawaku ke perjalanan pulang yang hakiki.

terimakasih Tuhan, kau sudah menciptakan dua saudara yang sangat melengkapiku, dengan segala hal tentang mereka. aku mencintai kalian lebih dari siapapun. aku mencintaimu mba, aku mencintaimu de. aku hanya bisa berharap, semoga kalian selalu baik-baik saja, bahagia dan selalu dlam lindungan-Nya.

terimakasih pula buat teman-temanku, semuanya. ya, semuanya selalu menginspirasiku. menyuport aku, dan mau menjadi teman-temanku, terimasih kawan. aku menyayangimu, semua. semuanya.

terimakasih juga tuk Atsar. terimakasih kata-katamu sungguh menenangkan. " Sya. cinta itu bukan sesuatu hal yang mengharuskan seseorang memiliki orang tersebut. cinta itu maknanya luas. kamu bisa menyayanginya dengan seperti halnya kamu menyayangi teman-temanmu. seseorang yang ingin terburu-buru mengungkapkan perasaannya itu kenapa, karena ia ingin memilikinya. padahal untuk menjadi sahabantnya itu udah luar biasa. coba kamu berfikir bahwa dia sangat pantas untuk menjadi sahabatmu yang selalu ada disaat mengobrol dan bertukar cerita. sehingga takkan ada kata putus, tak ada kata mantan. bukannkah lebih indah?"

dan terimakasih untuk hidup. terimakasih untuk rintik hujan, terimakasih untuk malam, terimakasih untuk setiap tetesan air mata, dan terimakasih tentang semuanya. terimakasih. i love you, everything. forever in love. 

persembahan terakhir tuk semuanya,

Ooh, you make me live. Whatever this world can give to me. It's you, you're all I see.
Ooh, you make me live now honey. Ooh, you make me live . . .

Oh, you're the best friend. That I ever had, I've been with you such a long time, You're my sunshine, And I want you to know, That my feelings are true. I really love you (Ooh). Oh, you're my best friend. . . . . .

Ooh, you make me live. Ooh, I've been wandering round, But I still come back to you (still come back to you), In rain or shine, You've stood by me boy, I'm happy at home (happy at home). You're my best friend . . . . . .

Ooh, you make me live. Whenever this world is cruel to me, I got you, to help me forgive -oo oo ooh,
Ooh, you make me live now honey. Ooh, you make me live . . . 

Oh, you're the first one. When things turn out bad. You know I'll never be lonely. You're my only one. And I love the thing. I really love the things that you do.

Oh, you're my best friend . . . Oh, ooh, you make me live. . . .

I'm happy (happy at home). You're my best friend,

Oh, oh, you're my best friend,

Ooh, you make me live, Oo oo ooh. . . . . . .

You, you're my best friend. . . 


~Marsya Sataly~
16122014; 23:14:07

Jumat, 12 Desember 2014

*


Hujan turun begitu deras, menghangatkan, menyejukkan. Hari ini Marsya memang tidak banyak beraktifitas. Karena lagi-lagi entah mengapa ia enggan tuk pergi kekampus. Mungkin karena ia sedang jauh dari Pencipta. Ia hanya sering berkata disela-sela kegiatannya “maafkan hamba-Mu yang keji ini Ya Robb.”

Benar, sebenarnya ia ingin sekali beruzlah. Setidaknya kali ini benar-benar sendiri. Mengikuti kaki melangkah, melihat keindahan-Nya, mendatangkan kehadiran dirinya sendiri, dan mencari ilham. Tanpa mencari seseorang yang dituju. Karena menurutnya, ilmu itu sungguh sangat luas, terbentang tinggi, dan berserakan seperti semua manusia yang ada dibumi ini. Ia benar-benar menghargai ilmu. Baginya ilmu laksana semburat cahaya yang mampu menerangi segala hal yang hitam pekat, legam tak berkesudahan.

Kali ini hujan sungguh sangat deras. Sangat deras. Membuat tubuhnya yang sedari tadi sudah lelah bekerja, protes pada tuannya untuk berbaring tidur. Namun entah mengapa, Marsya. Benar-benar ingin bercumbu dengan kawan barunya ini. Dengan sedikit tak sabar, karena ia sedang dan selalu belajar ilmu sabar, gadis itu membuka halaman yang sudah ia tandai. Hanya membutuhkan waktu satu setengah jam. Ia telah mencumbui, meraba seluruh halaman, meresapi saripati danmendapat hujatan keras, yang pasti hujatan pengobar semangatnya yang selalu meletup-letup.

Idah mengajarkannya tentang kesederhanaan, Ucon tentang pencarian jatidirinya, buruak kamba dengan kesetiakawanan dan toleransi yang tinggi, Joni dengan lagu tak ada yang abadi, Johan dengan perjuangan kehidupannya, Pak Latif dengan segala kesabaran dan keridhoannya, serta Muhammad Fatih. Dengan segala hal kegigihan, pengorbanan, dan ketulusan hatinya.

Memang benar, semua hal yang terjadi disetiap detik manusia hanyalah episode. Runtutan episode yang dengan mudah berubah sewaktu-waktu. Terkadang sedih, terluka, senang, tertawa, menderita, marah, bahagia. Namun ingat, semua itu hanyalah episode, semua akan berlalu, dan Tuhan pasti akan menghantarkan manusia ke episode yang terbaik.

Gadis itu kembali berfikir, bahwa uzlah tak begitu penting. Yang terpenting adalah ia bahagia. Dengan cara menyenangkan orang lain. Dan tak ada yang lebih membahagiakan selain membuat orang lain bahagia. Melihat orang lain tersenyum lebar dan membuat mereka tertawa lepas mengurai segala beban yang sedang dipikulnya.

Dan lagi-lagi, ia berkata dalam hati, “ semua akan kulakukan, tulus tanpa pamrih. Tanpa menodai sesuatu, bening, murni, tak terbatas dan semua berasal dari relung hatiku.”

“Dan, aku sangat bersyukur bahwa Tuhan telah menciptakanku. Aku. Marsya. Hamba-Mu yang lalai ini, hanya mampu berterimakasih. Terimakasih Tuhan. Aku mencintai-Mu. Aku mencintai-Mu Tuhan. Aku mencintai-Mu Sang Pencipta. Maaf, mohon ampun Ya Alloh. Hamba-Mu yang hina ini telah lancang. Astagfirulloh. Ampun Ya Alloh. Ampunilah segala kekhilafanku.”

Kamis, 11 Desember 2014

*

Hujan turun begitu deras, menghangatkan, menyejukkan. Hari ini Marsya memang tidak banyak beraktifitas. Karena lagi-lagi entah mengapa ia enggan tuk pergi kekampus. Mungkin karena ia sedang jauh dari Pencipta. Ia hanya sering berkata disela-sela kegiatannya “maafkan hamba-Mu yang keji ini Ya Robb.”

Benar, sebenarnya ia ingin sekali beruzlah. Setidaknya kali ini benar-benar sendiri. Mengikuti kaki melangkah, melihat keindahan-Nya, mendatangkan kehadiran dirinya sendiri, dan mencari ilham. Tanpa mencari seseorang yang dituju. Karena menurutnya, ilmu itu sungguh sangat luas, terbentang tinggi, dan berserakan seperti semua manusia yang ada dibumi ini. Ia benar-benar menghargai ilmu. Baginya ilmu laksana semburat cahaya yang mampu menerangi segala hal yang hitam pekat, legam tak berkesudahan.

Kali ini hujan sungguh sangat deras. Sangat deras. Membuat tubuhnya yang sedari tadi sudah lelah bekerja, protes pada tuannya untuk berbaring tidur. Namun entah mengapa, Marsya. Benar-benar ingin bercumbu dengan kawan barunya ini. Dengan sedikit tak sabar, karena ia sedang dan selalu belajar ilmu sabar, gadis itu membuka halaman yang sudah ia tandai. Hanya membutuhkan waktu satu setengah jam. Ia telah mencumbui, meraba seluruh halaman, meresapi saripati danmendapat hujatan keras, yang pasti hujatan pengobar semangatnya yang selalu meletup-letup.

Idah mengajarkannya tentang kesederhanaan, Ucon tentang pencarian jatidirinya, buruak kamba dengan kesetiakawanan dan toleransi yang tinggi, Joni dengan lagu tak ada yang abadi, Johan dengan perjuangan kehidupannya, Pak Latif dengan segala kesabaran dan keridhoannya, serta Muhammad Fatih. Dengan segala hal kegigihan, pengorbanan, dan ketulusan hatinya.

Memang benar, semua hal yang terjadi disetiap detik manusia hanyalah episode. Runtutan episode yang dengan mudah berubah sewaktu-waktu. Terkadang sedih, terluka, senang, tertawa, menderita, marah, bahagia. Namun ingat, semua itu hanyalah episode, semua akan berlalu, dan Tuhan pasti akan menghantarkan manusia ke episode yang terbaik.

Gadis itu kembali berfikir, bahwa uzlah tak begitu penting. Yang terpenting adalah ia bahagia. Dengan cara menyenangkan orang lain. Dan tak ada yang lebih membahagiakan selain membuat orang lain bahagia. Melihat orang lain tersenyum lebar dan membuat mereka tertawa lepas mengurai segala beban yang sedang dipikulnya.

Dan lagi-lagi, ia berkata dalam hati, “ semua akan kulakukan, tulus tanpa pamrih. Tanpa menodai sesuatu, bening, murni, tak terbatas dan semua berasal dari relung hatiku.”

“Dan, aku sangat bersyukur bahwa Tuhan telah menciptakanku. Aku. Marsya. Hamba-Mu yang lalai ini, hanya mampu berterimakasih. Terimakasih Tuhan. Aku mencintai-Mu. Aku mencintai-Mu Tuhan. Aku mencintai-Mu Sang Pencipta. Maaf, mohon ampun Ya Alloh. Hamba-Mu yang hina ini telah lancang. Astagfirulloh. Ampun Ya Alloh. Ampunilah segala kekhilafanku.”

Minggu, 07 Desember 2014

Hanya ini,

“Sya, kamu bisa kesini gak?” Ujar Saly.

“Sekarang? Aku baru selesai ngeshift Sal, gimana?”

“aku benci, sebel banget. Sinih kamu temenin aku.” Dengan nada setengah membentak.

“ada apa memangnya Sal? Kamu marah sama aku gara-gara aku sekarang gak ikut kumpul? Sorry,  aku lagi bener-bener gak ada waktu Sal. Tugas kuliah lagi banyak, kalau ada jadwal langsung ngeshift, kalau gak aku ngerjain tugas.” Sambil memindahkan ponsel ke telinga kirinya.

“lah gak mau tau. Sekarang kamu kesini. Aku getet banget, pengin nimpuk orang. Angga dihubungi gak aktif. Pada kemana sih?” dengan nada mulai meninggi.

“yang lain gak ada apa? Aduh gimana ya, aku bener-bener cape banget koh Sal. Tadi aku double shift kerjanya. Berangkat jam tujuh pagi pulang jam sembilan malam ini. Besok pagi aja gimana?”

“yahhhhhhhh. Yang lain dihubungi susah. Ini juga aku ngubungi kamu paling akhir. Kata Mei kamu emang lagi sibuk banget. Sinih bentar sih.” Dengan nada memelas.

“ada apa emangnya? Bapak ibu gak pulang lagi apa?”

“ kalau gak kesini kamu bakal nyesel!” kata Saly dengan nada benar-benar membentak.

Tut tut tut. Seketika itu Saly mematikan telponnya. Saly adalah teman Marsya. Tidak begitu dekat. Hanya saja mereka sering berkumpul bersama. Saly bisa dibilang pacar Angga. Namun mereka tak pernah mengumumkan secara resmi status itu. Angga adalah adik kelas SMP Marsya. mereka dekat karena dahulu Angga dan Marsya tergabung bersama menjadi anak basket. Saly memang baru lulus SMA tahun ini. Ia begitu labil, sangat labil, mungkin karena ia masih berumur tujuhbelas tahun. Ia jauh dari orang tuanya, saat ini ia tinggal bersama pamannya. Namun tak serumah, rumahnya hanya berhadapan dengan rumah pamannya. Ia tinggal sendiri karena ia anak tunggal. Karena itu pula, rumahnya menjadi markas besar anak-anak. Angga biasa menyebut markas sama rasa, satu nada. Karena anak-anak yang biasanya datang kesitu memiliki masalah. Apapun itu. Hanya saja, mereka masih selalu mengingatkan agar tidak terjerumus ke hal yang tidak-tidak. Karena hanya anak-anak kelas kakap yang benar-benar menggunakan mabes menjadi tempat untuk nge-fly. Hanya dua sampai tiga orang. Itupun jarang sekali. Yang lain, biasanya hanya mampu menghabiskan berbungkus-bungkus rokok dan bermain-main dengan minuman soda. hanya Marsya dan Widi yang masih benar-benar waras jika mereka sudah berkumpul. Sesekali memang dua orang itu ikut, hanya saja hanya satu dua hingga tiga batang saja. Setelah Marsya bekerja dan Widi sedang skripsi, mereka mulai jarang sekali menongkrong. Angga pun juga mulai waras karena ia dekat dengan Marsya.

“Ngga, kamu dimana? “ kata Marsya sesaat mendengar telponnya sudah terhubung

“Aku di Banyumas. Ada apa?”

“Saly lagi kalap tuh. Aku sekarang mau ke mabes. Kamu lagi ngapain? Bisa ke mabes gak?”

“hah?seriusan? kamu jangan kesitu. Aku Cuma cari angin. Aku pulang sekarang. Kamu jangan kesitu.”


“aku udah sampai gangnya. Kamu makannya agak cepet ya. Dia tadi bilang kalau gak kesini
Aku bakal nyesel. Aku takut dia nglakuin sesuatu yang gak gak.”

“Sya, jangan kesitu. Pulang!”

“kenapa sih? Udahlah, aku juga gak main. aku cape. Aku Cuma kesiitu bentar. Kamu kesini, aku langsung pulang. Cepet dikit ya.”

“ Sya, mending kamu gak usah kesitu. Istirahat aja kamu.”

“hm. Makanya cepet kesni.” Marsya lalu menutup telponnya.

Disatu sisi Angga benar-benar kawatir. Ia benar-benar melaju motornya dengan cepat. Ditelponnya Widi untuk kerumah Saly itu, hanya saja ia sedang diluar kota. Angga hanya takut Marsya menjadi korban.

“ Assalamu’alaikum Sal,” kata Marsya sesampainya dirumah Saly. Terlihat tertutup rapat tak ada orang. Marsya lalu membuka pintunya, dan mabes yang biasanya rapi, setidaknya tidak termasuk dalam daftar kapal pecah, saat ini markas itu benar-benar berantakan. Benar-benar berantakan. Seketika terdengar bunyi kaca pecah. Marsya lalu berlari menuju kamar Saly, dan benar. Ia sudah memecahkan barang-barang yang berada dikamarnya. Batin Marsya berkata belum telat, syukurlah.

“kamu kenapa Sal? Tenang dulu. Tenang.”

“seketika Saly meraung-raung, menangis besar dikamar itu. Marsya hanya bisa mendekatinya pelan lalu mengelus-elus punggungnya. Setelah Saly sedikit tenang, ia menatap Marsya, seketika itu juga ia menggigit lengan kiri Marsya. Marsya sontak kaget, ia kesakitan, namun ia menahan rasa sakit itu. Marsya hanya berfikiran mungkin hanya ini yang bisa ia lakukan.

Setelah gigitan pertama muncul. Ia menggigit lengan kanan Marsya, melepasnya. Lalu menggigitnya kembali. Sambil berkata “aku geget. Aku benci. Aku sebel.” Dan berakhir dengan remasan yang sangat kuat dengan kekuatan seluruh tenaganya ke lengan Marsya. Marsya tak kuat, hingga ia hanya berkata,” sakit”.
“sakit Sal.”

Saly benar-benar menghiraukan perkataan Marsya. sejenak ia menyulutkan sebatang rokok dan berkata,” aku benci.”

“benci sama siapa?aku kah?” saut Marsya, sambil mengusap kedua lengannya pelan.

“bukan. Emangnya kamu pernah buat salah.”


“lalu? Terserah kamu, mau cerita apa gak. Setidaknya aku sudah datang kesini. Jangan bertindak bodoh Sal.”

“ ah. Persetan. Ia memukul punggung Marsya dengan kuat.”

“Sal, tenang Sal. Tenang.” Kata Marsya. Sambil memegang kedua tangan Saly.

Seketika itu, ia menggigit Marsya dengan gigitan paling keras. Sangat terasa, karena Marsya meronta kesakitan. “Sal, bener. Sakit.” Marsya sudah benar-benar lelah. Hingga ia melepas kedua tangan Saly. Dan ia hanya berkata dalam hati, “ aku ridho Ya Alloh. Ikhlas, astagfirulloh, kuatkanlah Hamba.”

Terus dan terus Marsya menyerah, ia benar-benar membiarkan Saly menggigit, memukul dan meremas lengannya. Hingga akhirnya, terdengar suara motor didepan rumah. Selang beberapa detik, suara Angga sudah terdengar memanggil nama kedua gadis itu. Dan saat melihat keduanya, ia langsung menampar Saly. Benar. ia langsung menyadarkan Saly, agar ia sadar dengan apa yang ia lakukan itu salah. Marsya yang sedari tadi sudah sangat lelah hanya tersenyum tipis, syukurlah. Ia hanya berfikiran untuk langsung pulang kerumahnya. Karena jam malam berlaku, dan lengannya benar-benar terasa nyeri teramat sangat. Angga yang melihat Marsya, seketika langsung memapah marsya,

"kamu tidak apa-apa Sya? Tadi sudah aku katakankan. Aku lihat coba sini,” sambil memegang lengan Marsya.

“aduh, sakit Ngga. Gak papa koh, paling Cuma sakit bentar.”

“alah, gak usah bilang gitu. Aku tahu Saly, dia gak pernah tanggung-tanggung kalau lagi gitu. Pasti tadi kamu benar-benar jadi pelampiasannya. Maaf banget Sya, maaf banget.”

“sante aja. Aku pulang ya, kamu juga hati-hati. Tenangin saly ya. Minta maaf juga kamu ke dia, tadi kamu udah ngawur banget.”

“bener gak papa? Aku hubungi Gandi ya biar anter kamu pulang. Kamu keliatan lelah banget, pesti juga lengan kamu kesakitan,”

“udah gak papa. Aku pulang ya. Pamiti ke Saly.”

 Marsya sudah benar-benar tak kuat, batinnya berkata, ayo cepat sampai rumah. Ia melaju sangat kencang, sangat-sangat kencang, dan lampu hijau memang lagi bersahabat dengannya. Hampir setiap perempatan yang ia lalui, hampie selalu lampu hijau, sehingga ia tanpa henti, terus saja menyelusuri jalanan yang mulai sepi.

lagi-lagi air matanya tumpah. kali ini, air matanya keluar karena Ia merasa benar-benar kesakitan. Lengannya benar-benar terasa pedih, pegal dan tak karu-karuan.  Ia tak menyesal, tidak. Hanya saja ia ingin menyudahi hari ini dengan berbaring ditempat tidurnya.

Duapuluh menit kemudian, ia berada didepan rumahnya. Memasukan monster yang sedari tadi meraung-raung, karena ia melaju 90 hingga 100 km/ jam. Dan membuat Marsya melampiaskan semuanya dengan raungan monster itu.

Saat memarkir monsternya diruang tamu, ia segera masuk kedalam kamarnya. Menutup pintunya, dan ia seketika itu membuka kaos kerjanya. Yang dari pagi ia kenakan, Dan benar. Terdapat bekas gigitan dilengannya denagn rona sangat merah. Banyak sekali. dan gigitan yang sangat keras itu meninggalkan memar dilengannya, menjadikan warna kulitnya berubah menjadi ungu. Benar. Itu semua sakit. Sakit sekali.

Ia lalu mengenakan kaos oblong, pergi kekamar mandi, wudu, sholat dan akhirnya ia membaringkan tubuhnya ketempat tidur. Nikmat. Walau perutnya sangat lapar. Namun ia memutuskan untuk tidur. Setidaknya dengan tidur, rasa sakit yang masih terasa dilengannya itu tak muncul. Dan lagi-lagi ia benar-benar memegang prinsip bahwa, jangan pernah menjadikan orang lain sebagai pelampiasan. Karena itu hanya menyakiti mereka.

~Marsya Sataly~
05122014: 23:01:07

Sabtu, 06 Desember 2014

Marsya,melisa

“Ka marsyaaa,” gadis kecil ini berlari dan memeluknya. Marsya hanya melebarkan kedua tangannya. Seketika dua gadis itu berpelukan. Melisa berkata, “ aku rindu kak”. Setelah pelukan erat itu, Marsya mencium kening gadis yang sedari tadi menunggunya. Ia lalu menggenggam tangannya erat lalu mengajaknya pergi berkeliling panti. “ hih, aku sebel. Kakak sombong banget. Kata Pak Dul, kakak sering duduk depan sekolah kan? Tapi kakak dateng waktu aku sudah pulang. Kenapa ga main kesini sih? Udah lupa apa sama aku?” kata Melisa dengan muka cemberut.

“hehe, maaf. Kakak lagi sibuk koh. Tapi sekarang kakak disini kan datengi melisa? Melisa udah sembuh kan? Sekolahnya gimana? Mau ujian tengah semester kan?” sambil mengelus rambut gadis cilik itu.

“Ini lagi ujian kakak. Aku sudah sehat donk. Kan aku kuat kaya kakak,hehehe. kakak sekarang kurus sih. Kakak ikut program diet yang ada di tv-tv ya? Ah kakak. Ga usah ikut-ikutan giituan. Kakak berarti gak bersyukur sama Alloh tuh.” Seru Melisa yang sedari tadi memutari Marsya.

“hahaha, enggak Melisa sayang. enggak ah, kakak emang segini aja kan? Kakak tambah manis lah iya yaaa? Hayo belajar sanah.”

“hihi, kalau kakak manis,berarti melisa cantik yaa. Oh ya, kakak udah makan?aku buatin mie mau? Kan kakak payah. Gak bisa masak. Hehehe. Melisa kalau inget waktu kakak bikin mie rebus waktu itu. Masa bumbunya dimasukin semua sekalian plastiknya.hehehe. kakak lucu” sambil mengejek Marsya.

“hih, waktu itu kan kakak lupa,kakak kira itu bumbu udah dikeluarin. Eh gak taunya masih didalam. Hi ih, Melisa baru ketemu udah gitu yaaaa,,,awas kamu yaaaa.” Sambil mengelitik punggung Melisa.

“ihiiiii,,kaka geli. Melisa buatin yaaaa,,, kakak jangan pergi-pergi tapi. Atau ga melisa ajarin bikin mienya. Gimana?”

“Melisaaaaaa. Kakak kan uda bilang kalo waktu itu . . .  . “

“hehehe iya iya. Waktu itu kakak lupa bumbunya. (sembari berkata seperti Marsya)

“hahaha,,,kamu bisa aja Sa sa. (sambil mencubit pipinya)”

“ayuh ke dapur kak”

“enggak usah de, kakak gak laper. Main aja yuh. Main sambil belajar. Kalau melisa ga bisa jawab pertanyaan kakak. Melisa harus, hm. Pijetin kakak. Gimana?”

“kalo bisa Melisa dikasih apa? Hm. Jalan-jalan ke pasar ikan lagi kaya waktu itu yaaaaa. Oke oke?”

“iya boleh. Tapi jangan kaya waktu itu, Melisa ngeliatin ikan terus. Sampai-sampai diajak pulang gak mau. Harus disodorin es krim dulu baru mau. Kakak ogah kalo kaya gitu mah.”

“iya iya kak. Gitu aja. Kan aku lagi memperhatikan ikan. Abis ikannya diem aja. Tenang banget kayanya di akuarium. Aku jadi suka ikan. Sukaaaa banget. Kaya cincin yang kakak pakai itu. Gambarnya ikan kan? Kakak suka ikan juga apa? Emm. Tapi jelek. Kakak pakainya di jempol. Hih, jelek tauuuuuu.”

“hahaha. Kamu diem-diem merhatiin kakak yaa. kakak suka ikan, dari kecil ayahnya kakak suka melihara ikan. Kalau yang gambar dicincin ini, ada artinya sendiri de. Hm, gambarnya kan tulang ikan ada 3 gambar.” Sambil menunjukan cincinnya ke melisa.”

“ih iya, ada tiga. Melisa kira Cuma satu. Itu ada artinya emang kak? Orang gambar tulang ikan doank juga,”

“hahaha. Melisa Melisa, nih kakak jelasin. Tulang ikan itu sama aja kaya manusia. Kalo manusia itu jauh sama Penciptanya, ya nanti bakal jadi tulang ikan itu, ga berguna, Cuma jadi pengganggu dan ngerepoti. Coba melisa kalo makan ikan, terus kena durinya, gak enak kan? Maksudnya kakak pakai cincin ini, biar kakak selalu inget,kalo kakak itu hidup didunia ini pasti selalu butuh Alloh. Ya kaya ikan, selalu butuh air untuk bisa tetap hidup. Kalau kita jauh dari Alloh, ya nanti Cuma bisa jadi tulang ikan. Emangnya Melisa mau?”

“ hih,enggak lah. Kata Bu Pur kita harus sering-sering baik sama orang. Apalagi sama orang yang membutuhkan pertolongan. Kaya melisa waktu ga bisa jawab soal matematika tadi. Terus, temen melisa bantuin, baik kan dia,”

“melisa. Hoooo,,ga belajar apa? Iya gak papa tanya sesekali boleh, tapi melisa harus belajar juga. tapi kakak percaya, melisa kan anak pintar. Oh ya, kata Bu Pur sekarang suka nulis-nulis ya.”

“hihihi,,iya. Ih, bu pur bilang apa aja emang kak? Nanti Melisa marahi bu pur ah. Melisa malu tahu. lhah terus maksudnya ada tiga tulang ikan itu gimana? Apa kaka suka angka tiga?”

“hahaha. Kamu sekarang kritis ya. Tanya-tanya terus. Nyrocos terus. Hehe tapi gak papa. Bagus kok. Hehe. Maksudnya ada juga de. Hm. Kakak kasih tau gak ya?”

“hiih,kakak. Aku kan ikut-ikutan kaka. Dulu kakak waktu pertama kesini juga sukaaaaa banget tanya-tanya melisa. Kepo deh kakak. Hehehe. Apa  artinya kak? Jangan bikin Melisa penasaran sih. Emmm, yaudah Melisa juga mau beri kakak sesuatu.”

“apaan itu?”

“ kasih tau gak ya?”

“melisaaaa!”

“wekk,,,emangnya enak? Penasaran nih yeeee”

“hahaha,sekarang pinter ngeles juga ya,,hahahaha”

“ kan aku belajar dari kakak. Dulu waktu Melisa ngamuk,kakak selalu buat lelucon biar melisa ga ngamuk-ngamuk. Kaka sampai dilihat sama temen-temen kaya orang gila. Habis cerita lawakan kaka gak ada habisnya. Apa lagi yang biksu tong itu. haha, kaka emang sedikit gila ya,,,hehe piss ka”

“hahaha,,,dasar melisaaa. Hm, maksudnya. Hm,,,,, kakak malu bilangnya.”

“ngapain malu-malu sih kak? Ntar melisa kasih tau apa yang mau melisa kasih.”

“ hm,,maksud dari ketiga tulang itu, maksudnya. Hm. Kakak mau punya pasangan yang sama-sama berfikiran selalu membutuhkan Alloh, yang inget sama Alloh. Jadi kakak mau menunggu pasangan kakak, yang diberi sama Alloh, jadi. Intinya biar kakak, pasangan kakak sama Alloh saling ridho. Mudeng gak melisa? Hehehe. Gak mudeng pesti ya?”

“enggak. tapi yang melisa denger, kakak berarti pengin punya pacar yaaaaa????ciye,ciyeeee. Sebenarnya melisa pengin banget bilang sama kaka. Kalau kakak kok ga pernah bawa cowonya. Waktu itu pernah bilang bu pur. Tapi melisa langsung dimarahin, katanya jangan tanya ke kak marsya loh. Gitu kak. hehe”

“hahahaha,,, kakak jadi malu. Hahaha,,, belum dikasih sama Alloh de. Kan sekarang juga kakak sama Melisa kan. Nanti kalo kakak punya pacar, terus kakak jarang kesini gimana?”

“ amit-amit, jangan sampai. Hehehehe. Entar melisa sendirian kak. Tapi kan kalau kaka punya pasangan, Melisa yakin juga kakak ga akan lupain Melisa. Yang ada kaka pasti bawa pasangannya kesini. Iya kan, iya kan?”

“hahaha, Melisa pede banget. Hehe. Oh ya, jadi melisa mau ngasih apa?”

“oh ya. Bentar ya kak.” Melisa berlari menuju kamarnya.

“ini,buat kakak. Aku liat kakak suka pakai gelang. Ini waktu itu ada yang jualan di depan sekolah, tinggal satu loh kak. Terus melisa beli. Eh, bakulnya
ngomong buat siapa ya? Masa dikira buat pacarnya melisa. Melisa bilang aja, buat kakak. Eh, ternyata mas bakul itu tahu kakak. Terus digratisi. Kakak terkenal banget disekitar sekolah melisa ya? Pak penjaga sekolah waktu itu bilang, kakak tiduran diteras ya, hi,kaya pemulung aja,hehehe. Kenapa gak ke panti aja sih?”

“hahaha, ketahuan deh. Waktu itu kakak lagi tanggungan. Gelangnya bagus. Kaka boleh pakai gak nih?”

“bolehlah,sini aku pakaiin ya kak, Ini gelangnya juga tinggal satu, tadi dipilihi mas bakulnya. Gelangnya juga didalam tas, gak dipajang. Jadi masih bagus bentuknya. Tulisannya “friend” bagus kan? Eem, ada artinya juga loh kak,”

“hahahaha,,,sekarang Melisa mainnya arti ya. Hm, artinya apa coba?”

“emmmm,,,sebentar. Artinya apa yaaaaa?” melisa berfikir

“hahaha,,, kaka jadi temen Melisa,Gitu?”

“bisa jadi. Tapi,,,,,,,, emmmmmm. Ahaaaaaaaaa. Aku tahu. Berarti kak Marsya selalu butuh teman.gimana?” dengan raut wajah yang gembira karena berhasil menemukan arti menurutnya yang paling cocok.

“hahaha,,,,kamu. Bisa aja Sa sa. Bagus, kakak suka,sukaaa banget, makasih yaaa”(mengikuti gaya bicara Melisa”

“hi ih, kakaaaak..”

“hehe, yaudah. Udah sore, udah mau hujan. Kaka pulang yaaa.”

“tunggu hujan sih, kita hujan-hujanan bentar. Melisa kalau ada kaka kan boleh hujan-hujanan. Pokoknya kakak ga boleh pulang.”

“ sudah sore Melisa, besok-besok lagi ya hujan-hujanannya. Kakak malah lupa, tadi kakak mau bikin permainan sambil belajar malah ga jadi kan. Maaf ya, besok-besok lagi, oke?”

“hih, kakak. Kakak tadi kan udah bermain sambil belajar. Yey,berarti kakak harus ngajak Melisa ke pasar ikan. Tadi kak Marsya tanya melisa jawab, kakak tanya lagi, melisa jawab lagi. Jadi kakak punya utang,yeye asik. Utangnya jadi dua, ke pasar ikan sama hujan-hujanan.”

“Melisaaaa. Tadi kan maksudnya pertanyaan soal. Bukan kaya gitu?” dengan raut wajah yang disuramkan.

“tadi kakak gak bilang. Berarti utang loh. Tadi juga melisa belajar. Kalo melisa juga butuh banget Alloh. Melisa jadi bersyukur masih bisa bernafas nih kak,,,”

“hahaha, anak pintar-anak pintar, tapi pinternya, pinter ngeles bangeeeet.” (sambil mengacak-acak rambut kriting melisa)

“kak Marsya,rambut melisa jadi berantakan.” Seru Melisa yang seketika cemberut.

“hahaha,yauda kakak pulang dulu yaaa,,,belajar yang rajin. Terima kasih gelangnya yaa sayang” sambil mengecup keningnya.


Setelah berpamitan dengan Bu Pur, melisa meninggalkan panti, rintik hujan turun. Bersamaan dengan itu,  tes. Tes. Tes. Satu persatu butir air matanya turun. “ah, kau datang diwaktu yang tak tepat” batinnya berkata pada butir air matanya, sembari menghapus air matanya itu. Batinnya berkata,”Melisa, kau sangat mengerti aku, terimakasih.”

Dari kejahuan Melisa berlari menuju depan panti. Melisa memanggil namanya.

“kak Marsya, kak Marsya. Ada yang mau kenalan sama kakak........kaaaaaaa,,,, “

Sabtu, 29 November 2014

books


Semenjak kejadian itu, Marsya lebih banyak lagi diam. Tidak.Ia sebenarnya sedang bertanya pada dirinya. Dan konflik batin tak terelakan.Namun, lagi-lagi ia tak mendapatkan apa yang ia cari. Ia memutuskan untuk menemui kawan-kawannya. Dan, hari-harinya kini mulai dihujati, dihujati dengan kata-kata pedas, tegas, tanpa ampun. Walau begitu, ia senang. Kata-katanya,semua sangat menyentuh hatinya.
Kawan-kawan itu memang selalu setia menemaninya. Setia menunggu gadis itu datang, selalu ada untuknya, walau mereka tak pernah bisa menawarkan sandaran bahu. Namun, mereka hadir dan selalu ada untuk menemaninya.

Ya, gadis itu sering menghampiri mereka. Walau sebenarnya ia mendatanginya paling terakhir. Setidaknya, karena setiap manusia sibuk dengan urusannya masing-masing. Dan walaupun mereka memang tak bisa diajak berbicara.Namun, mereka membuatnya tak sendiri.
Sudah sekian  waktu,ia terjebak dengan perasaannya sendiri. Amarah yang ia katakan sudah tak ada,itu sebenarnya masih tertinggal di hatinya. Dan ia baru menyadari itu dari mereka.

“hm. Tak apa. Setidaknya aku sudah tahu, dan aku berusaha untuk menghilangkannya perlahan tanpa paksaan.” Batinnya.
Setidaknya, ia tak ingin menghancurkan dirinya sendiri lagi.Setelah apapun peristiwa yang sudah terjadi, dan berawal dari peristiwa itu. HaHa . sudahlah.

Ia tak ingin mengulangnya. Menghancurkan jiwa raganya pelan tapi pasti. Bukan. Mungkin karena saat itu ia tak menyadari. Tak apa. Yang pasti, karena kejadian malam jum’at itu. Hampir-hampir ia merasa mati. Itu sangat bodoh.tidak ia bukan bodoh. Ia hanya tak pernah memperhatikan kondisi fisiknya. Ia pelan tapi pasti meremukkan tubuhnya. “Tidak. Aku tidak sebodoh itu. “Batinnya berkonflik. Ia mulai memikirkan, “untuk apa  aku pertahankan tujuan hidupku? jika jiwa dan ragaku pada akhirnya, perlahan tapi pasti ku hancurkan sendiri? gila. Itu gila.” Batinnya berkecamuk.
“Jiwaku, ragaku,jauh lebih penting dibanding tujuan hidupku.Karena berasal dari mereka, hukum kausal tetap berlaku.haha “ gadis itu menjawab batinnya dengan tertawa.

Memang semua indah pada waktunya. Dan Tuhan tak pernah tidur, Rencana-Nya pasti selalu yang terbaik. Pasti indah. Indah. Dan lagi-lagi ia bersyukur, dapat mempunyai kawan-kawan itu. Yang pasti, ia sudah tak sabar menunggu waktu. Menunggu kawan-kawan barunya yang akan datang padanya.sabar. sebentar lagi. Batinnya lagi-lagi berkata.

Setidaknya, jika kawan-kawan berbicaranya sulit untuk ditemui. Tidak masalah baginya. Karena, ada banyak kawan-kawan lain yang setia menemaninya. Mereka memberi sesuatu hal yang baru, walau kawan-kawannya itu tak mengerti apa yang diinginkannya. Namun setidaknya,mereka dapat memberikan kepada gadis itu, sesuatu. Sesuatu yang mungkin jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
Gadis itu, hanya dapat berucap. “terima kasih. Terimakasih kawan. Terimakasih, segala buku-buku bacaanku”. Terimakasih.


 291114; 11:19:

Marsya,

Semenjak kejadian itu, Marsya lebih banyak lagi diam. Tidak.Ia sebenarnya sedang bertanya pada dirinya. Dan konflik batin tak terelakan.Namun, lagi-lagi ia tak mendapatkan apa yang ia cari. Ia memutuskan untuk menemui kawan-kawannya. Dan, hari-harinya kini mulai dihujati, dihujati dengan kata-kata pedas, tegas, tanpa ampun. Walau begitu, ia senang. Kata-katanya,semua sangat menyentuh hatinya.
Kawan-kawan itu memang selalu setia menemaninya. Setia menunggu gadis itu datang, selalu ada untuknya, walau mereka tak pernah bisa menawarkan sandaran bahu. Namun, mereka hadir dan selalu ada untuk menemaninya.
Ya, gadis itu sering menghampiri mereka. Walau sebenarnya ia mendatanginya paling terakhir. Setidaknya, karena setiap manusia sibuk dengan urusannya masing-masing. Dan walaupun mereka memang tak bisa diajak berbicara.Namun, mereka membuatnya tak sendiri.
Sudah sekian  waktu,ia terjebak dengan perasaannya sendiri. Amarah yang ia katakan sudah tak ada,itu sebenarnya masih tertinggal di hatinya. Dan ia baru menyadari itu dari mereka.
“hm. Tak apa. Setidaknya aku sudah tahu, dan aku berusaha untuk menghilangkannya perlahan tanpa paksaan.” Batinnya.
Setidaknya, ia tak ingin menghancurkan dirinya sendiri lagi.Setelah apapun peristiwa yang sudah terjadi, dan berawal dari peristiwa itu. HaHa . sudahlah.
Ia tak ingin mengulangnya. Menghancurkan jiwa raganya pelan tapi pasti. Bukan. Mungkin karena saat itu ia tak menyadari. Tak apa. Yang pasti, karena kejadian malam jum’at itu. Hampir-hampir ia merasa mati. Itu sangat bodoh.tidak ia bukan bodoh. Ia hanya tak pernah memperhatikan kondisi fisiknya. Ia pelan tapi pasti meremukkan tubuhnya. “Tidak. Aku tidak sebodoh itu. “Batinnya berkonflik. Ia mulai memikirkan, “untuk apa  aku pertahankan tujuan hidupku? jika jiwa dan ragaku pada akhirnya, perlahan tapi pasti ku hancurkan sendiri? gila. Itu gila.” Batinnya berkecamuk.
“Jiwaku, ragaku,jauh lebih penting dibanding tujuan hidupku.Karena berasal dari mereka, hukum kausal tetap berlaku.haha “ gadis itu menjawab batinnya dengan tertawa.
Memang semua indah pada waktunya. Dan Tuhan tak pernah tidur, Rencana-Nya pasti selalu yang terbaik. Pasti indah. Indah. Dan lagi-lagi ia bersyukur, dapat mempunyai kawan-kawan itu. Yang pasti, ia sudah tak sabar menunggu waktu. Menunggu kawan-kawan barunya yang akan datang padanya.sabar. sebentar lagi. Batinnya lagi-lagi berkata.
Setidaknya, jika kawan-kawan berbicaranya sulit untuk ditemui. Tidak masalah baginya. Karena, ada banyak kawan-kawan lain yang setia menemaninya. Mereka memberi sesuatu hal yang baru, walau kawan-kawannya itu tak mengerti apa yang diinginkannya. Namun setidaknya,mereka dapat memberikan kepada gadis itu, sesuatu. Sesuatu yang mungkin jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
Gadis itu, hanya dapat berucap. “terima kasih. Terimakasih kawan. Terimakasih, segala buku-buku bacaanku”. Terimakasih.
 291114; 11:19:08

Selasa, 18 November 2014

Pengakuan

sudah hari Rabu saja, berarti besok hari kamis, Jum'at dan, yeaaaah. selesai sudah semester ini. aku kali ini duduk agak berbeda dari kemarin. tetapi tetap dalam satu tempat yang sama. aku barusan saja selesai ujian. haha. dengan menggunakan pakaian alakadarnya, karena tadi aku kesiangan, memang selalu kesiangan. hingga aku tak sempat untuk mandi, haha. ya, sampai saat ini kaos tidur yang semalam aku pakai masih melekat, menyelimuti tubuhku. haha. tulisan ini juga sempat berhenti sejenak. karena aku, hm, ada panggilan alam yang harus aku selesaikan, jadi yaaa, aku menongkrong. haha. sudah sejak masa SMP aku lebih suka menongkrong di sekolah, hingga aku mengerti betul letak-letak toilet di sekolah SMP, SMA hingga kuliah. haha. begitulah saya. untung hanya masa SMA saja, aku sampai membawa handuk dan sabun, karena saat itu kesiangan, dan aku memutuskan untuk mandi disekolah. ckck. marsya marsya, kapan kamu mau berubah? saut suara dalam hatiku.

balik lagi, tadi ujiannya pagi. ada pertanyaan tentang generalisasi dalam peran. aku lupa jawabannya, akhirnya aku beranikan saja untuk bertanya pada teman sebelahku. siapa tebak? haha. sayang, bukan Atsar. untuk kali ini, ia tak mengambil mata kuliah ini, ada mata kuliah yang harus ia ulang, yaa pendalaman materilah. haha. temanku bernama Nafi. aku bertanya padanya, ia menjawab "penghargaan". oh ya, dan aku baru ingat jawabanya memang penghargaan. aku hanya berbicara pada diriku sendiri. "tuh kan, kamu saja lupa dengan penghargaan. katanyaaa, menurutmu penghargaan itu penting." haha. betul - betul. penghargaan, apapun itu namanya memang sangat penting menurutku. bukan aku suka penghargaan. bukan. hanya saja aku senang melihat penghargaan yang diberikan orang lain. kenapa? karena sebuah penghargaan hakikatnya adalah menghargai. menghargai keberadaan orang laain, menghargai kemampuan orang lain, dan menghargai apapun yang ada dari orang lain. dan dari penghargaan itu, seseorang yang mendapatkannya, tentu akan merasa kehadirannya begitu berarti. so, tak ada salahnya sebuah penghargaan bukan?

haha, tulisan gak tahu apa. direcoki dua orang sableng. Si Ugi dan si Uji. sompret. hilang sudah feel menulisku. ckck

ditempat yang sama, tanpa Atsar
~Marsya Sataly~

Kamis, 13 November 2014

melisa dan teman barunya

"dia datang.dia datang." ujar melisa gadis cilik berambut kepang dua menunjuk nunjuk awan dilangit yang gelap.mendung.

ini kesekian kalinya Ata mengunjungi anak anak panti.awal mulanya,satu tahun lalu ia bertugas mengirimkan bantuan dari kantornya untuk panti.namun setelah itu,ia sering datang ke panti untuk sekedar bermain dengan anak anak. tidak.sebenarnya itu hanya pengalihannya pada gadis itu.yaps.sudah satu tahun lebih,ia tidak berkomunikasi dengannya.bertemu saja tidak.gadis itu sudah tak pernah terlihat ditaman. sesekali ata melihatnya.namun,seketika ia memalingkan muka,agar seolah olah tak melihatnya.entahlah,iapun tak mengetahui mengapa harus seperti itu. jambrong,dia sampai sampai sudah memberikan trik untuk ata.dengan nama jurus melunakan awewe,aji aji,sampai ke jurusplus ajiajiplus pamungkas.dari mulai nyaranin buat sms,telpon,chating,sampai main kerumahnya.dan terakhr yang ga masuk akal. ata disuruh menengok jendela kamarnya,atau ga sekadar duduk didepan kamarnya. si ata hanya menolak dengan nada yg tak jelas,"gila kali lu ya..."

ye,bener.dia datang.kak ata,ayuh ayuh.kita hujan hujanan."saut melisa mendorong punggung ata yang sedang duduk diberanda.
"disini aja ya.melisa kan baru sembuh.lagi pemulihan malah.kemaren kata dokter harus banyak-banyak istirahat kan,oke.disini aja." balas ata.
"lha ah,orang mau hujan-hujanan bentar koh. 1 menit aja.ntar setelah itu masuk kamar lagi.bole ya kak"imbuh gadis cilik itu,yang belum genap 10tahun. saat ata datang,ia langsung mendekatinya.dan ingin diajak jalan jalan.melisa dengan muka melas,menceritakan kejadian apa saja yang trjadi di rumahsakit,dan baru kemaren sore ia diperbolehkan pulang.
"melisa,inget ga kata dokter.inget ga tadi waktu izin bu pur.bilangnya kan cuma main diteras aja.jangan hujan-hujanan ya.tuh,tambah besar tuh hujannya."seru ata.
"wah,tambah asyik tuh.ayuh lah kak.bentar aja.plis,ka ata ganteng deh."sambil menarik tangan kanan ata.
"gak mau ah.kakak gak mau.entar kalo bu pur liat gmn?" imbuh ata.
"yah KAK ATA ga asik.melisa benci.kak ata pergi aja sana!" bentak melisa.ia marah,haha.sebenarnya ia kesal.setelah itu melepas tangan ata dan berlari ke taman depan panti.ia  memutar mutar tubuhnya,sangat ceria.terlihat jelas dari raut wajahnya.berbeda sekali saat ata baru datang ke panti.
anak ini batin ata.seketika ia berlari menghampiri melisa.
"wek,kak ata jelek akhirnya hujan hujanan.sini kak sini.nanti aku kenalin sama temen aku.dia baik koh.sini kak..."terdengar suara melisa berteriak teriak di tengah taman.

saat melisa sudah didepan ata.ata menjewer pelan gadis itu. ia berucap "wo,dasar anak nakal".seketika itu juga ia memeluk gadis cilik itu.setelah itu ia melepaskan jaket yang dikenakannya,dan memakaikannya pada melisa.sedetik kemudian ia menggendong melisa,tanpa menghiraukan teriakan,pukulan,dan omelan gadis cilik itu.
"hi ih.kakak.lepasin aku.ntar gak aku kenalin loh sama temen aku itu.kaka gitu sih.ntar temenku marah gimna?ntar ga mau datang lg.kakak.turunin aku!"rengek melisa.

bu pur,yang daritadi mengamati kejadian itu dari ruang bermain,seketika itu langsung keluar menghampiri keduanya. saat ata menurunkan melisa.saat itu jga bu pur berkata,"melisa,masuk kamar.ganti bajunya!"dengan nada sedikit tinggi. melisa langsung berlari meninggalkan ata dan bu pur menuju kamarnya.ya sambil menangis. ata melihatnya,namun ia bingung untuk berbuat apa.sementara bu pur mengelus dadanya.anak itu.melisa sangat menghormati bu pur.karena bu pur sudah menjadi ibu kandungnya,ia juga selalu menemani dan memenuhi kebutuhan anak anak panti.
"maaf bu.tadi saya yang mengajaknya keluar," ata memecahkan keheningan.
"tidak apa apa nak.melisa biasa melakukan itu.ibu juga bingung.mengapa ia seperti itu.padahal,ia sangat takut dengan suara gluduk dan melihat petir.saat awan sudah mendung saja.ia langsung mengurung diri dikamar."ujar bu pur.

satu jam kemudian,ata setelah menggeringkan pakaiannya.sambil menghisap rokoknya.entah daritadi ia sibuk memikirkan hal ini dan itu.setelah benar benar pusing.ia memutuskan untuk mengambil jaketnya yang tadi ia kenakan pada melisa.
"melisa," panggil ata pada gadis yg sedang berbaring tidur.
"kok ga jawab sih,marah ya sama kakak?"imbuh melisa.
"itu jaketnya bawa pergi aja sana.bau rokok.melisa gak suka." balas melisa singkat.
ata menghampiri dipan melisa,"melisa,coba liat kakak.kakak tadi denger waktu melisa di tengah taman tadi.katanya melisa mau kenalin kakak sama temen melisa.teman barunya melisa ya?biasanya selalu dikenalin ke kakak.memangnya temannya melisa tadi siapa?kok melisa sampai blg kalo ntar temennya melisa ga datang lagi?" ata bicara dg perlahan.
melisa membalikkan badan menghadap ata."apa kakak peduli sama melisa?kakak sekarang ga asik.melisa ga suka.tpi,melisa tetep aja rrindu kalo kak ata ga ke panti.tapi kakak nyebelin sih.melisa jadi males." saut melisa dengan polosnya.
"temen melisa itu ya hujan. imbuh melisa.
"hujan???knp bisa?" ata penasaran.
"iya.hujan.kalo hujan datang melisa senang.dia memang ga bisa bicara.tapi,melisa bisa denger kalo sebenarnya dia juga seperti kita.ia bisa bicara."
"memangnya,hujan bicara ke melisa ap?"
"hujan datang.selalu berbicara.dia berkata "tenanglah.semua akan baik baik saja."
"kaka ga bisa denger ya?.makannya kakak coba hayati kalo ada hujan.baik saat gerimis.maupun saat hujan deras.waktu gerimis.rintik hujan seakan akan menenangkan kita,dan ia membuat kita tenang.dengan suara yg lembut,sejuk dan menghangatkan,pelan tapi pasti dia berbicara halus,tenang.smua akan baik baik saja.namun,apabila,hujan sangat deras.suara  rintik hujan kencang.semakin kencang,dan terdengar jelas.ia benar benar mengatakan dg tegas.bahwa tenanglah.semua pasti akan baik baik saja." melisa menerangkannya.
"ooh,gtu.melisa bisa sampai bgtu ya?"bingung sekaligus kagum mendengar langsung dari anak yg baru menginjak kelas 3 sd.
"melisa kata kakak cantik.kakak cantik yang suka duduk didepan sekolah melisa.kaka itu juga mengantar melisa pulang."
"oh diberi tahu.kok bisa kenal?emang ga takut diculik?"
"gak lah.kaka itu temennya pedagang disini.kata pak Dul.kakak itu emang suka bgt duduk disitu.temen temen melisa juga kadang dianterin sm kaka cantik itu.kadang kadang juga mbeliin jajan.mbantuin bu toha juga.waktu bu toha pergi,kaka itu biasanya ngantiin jualan bentar. waktu tu melisa dikasih banyak bgt.he he.kakak itu baik kok.ga mungkin nyulik melisa."
"oh gtu.boleh tuh kakak dikenalin.katanya cantik lagi."
"KAKAK!cantikan melisa tau."
"oh ya.trs,melisa suka sama hujan kenapa?kok mau temenan sama dia?melisa kenapa?"
"melisa kangen sama bapak,sama ibu."jawabnya singkat.
"tapi,kata kaka itu,waktu hujan datang.melisa disuruh menulis dikertas.trs,kertas itu dilipat menjadi bentuk kapal.setelah itu,kalo sudah terang.melisa disuruh jatuhin ke sungai kecil depan panti.katanya biarin aja air yg nyampein ke bapak n ibu."
"ooo.gak papa.melisa kan msh ada bu pur.pak slamet,kaka cantik,kaka ata.temen2 panti.jadi rame.melisa ga kesepiaan.kan berarti banyak yg peduli sama melisa."
"iya.melisa tahu.makasih ya kak ata.kata kaka cantik juga.kalo melisa kangen sama bapak n ibu.melisa disuruh berdoa,biar Alloh selalu menjaga mereka,melindungi mereka,dan doa melisa terakhir yaitu,semga bapak dan ibu baik baik saja."kata melisa dengan suara yang lirih.
"bagus.bagus.melisa harus jadi anak yang berbakti.yauda,sekarang melisa istirahat.kakak pulang dlu yaaa.tapi janji loh.kaka kenalin sm kaka cantik itu.oke?"
"oke deh kakak." bersemangat.
"udah ga marah lagi kan?kakak sekarang ngerti kok.boleh hujan hujanan tapi tunggu sembuh total.oke?"
"siap bos!"

ata mengambil jaket dan mencium kening melisa.batinnya berkata.terimakasih.ia keluar dan menutup pintu kamar dg pelan.ia berjalan diberanda teras,pikirannya mulai berkecamuk.berkecamuk dg apa yg dikatakan melisa dan satu hal yg mmbuatnya ia penasaran.siapa kakak cantik itu?
"ah bodohnya.kenapa aku tadi tak bertanya,siapa namanya?"


~131114,16:53:19~

Senin, 27 Oktober 2014

only


Saat ini, ia terbaring lemah tak berdaya. Untuk kesekian kalinya, ia berada dalam titik lemah kehidupannya.Tak ada yang melihat, satu manusiapun terkecuali ayahnya. Ayahnya, hanya mampu mendekati dan mengelus pundaknya, dan tak ada satu katapun terucap di bibirnya.

Sudah sekian minggu,ia seperti itu. Menjalankan hidupnya dengan setengah hati. Semangatnya menghilang entah kemana. Bukan cuma pakaiannya yang sangat lusuh. Tampilan yang sangat berantakan. Di tambah tubuhnya yang semakin kurus seperti triplek kata tetangganya.

Ia benar-benar hancur, entah apa yang ada dibenakknya. Ia benar-benar terlihat lelah. Namun, ada satu hal yang membuatnya berbeda. Ia semakin menyendiri. Selalu menyendiri ditengah keramaian. Sesekali ia berkumpul dengan teman-temannya, pasti ada satu moment ia duduk sendiri. termenung duduk membisu. seakan-akan ia sedang mendengar ritme detak jantungnya. dan saat teman menghampirinya. dan bertanya, "sedang apa kau?" ia hanya menyeletuk “ menikmati alam” katanya.

Sebenarnya, ia tidak sendiri. Ia sedang bersama-sama alam, mencoba mendekati Sang kholiq. Ya, dia benar-benar ingin selalu dekat dengan Sang Pembuat Hidup.

Walau demikian, bahasa tubuhnya mengutarakan yang lain. Seakan-akan ia menemukan sesuatu hal yang baru. Seakan-akan bahasa tubuhnya berkata walaupun sudah ada lantai untuk bersujud, ia tetap membutuhkan sandaran bahu orang lain.

Sangat tersirat memang, namun jika diamati lebih dalam bahasa tubuhnya berkata demikian. Dia sangat pintar menutupinya, seolah-olah hidupnya tak pernah menemui masalah, bahkan hampir sebagian temannya bersandar di bahunya. Bisa karena mereka merasa letih, karena beban yang mereka pikul sangat berat. Bisa karena mereka sudah terbiasa bersandar sejenak untuk istirahat. Bisa jadi karena mereka sudah nyaman dengannya,ataupun mereka hanya rindu dengan kekonyolannya.entahlah.

Nyatanya, tidak. Ia benar-benar seperti manusia biasa yang memiliki masalah. Ia sangat lemah walau untuk memapah dirinya sendiri. Saat ini, hanya dinding yang mampu dan setia memapahnya. hanya angin malam, rintik hujan, dan kegelapan malam yang menemaninya. Tak mengapa, sudah cukup mereka semua untukku. Seolah bahasa tubuhnya menolak kalimat itu. seakan-akan ia berkata aku berbohong.

Saat ini, dibenaknya. Terlihat jelas untuk menghilang. Bukan, sebenarnya ia takut suatu saat dirinya menghilang tanpa sadarnya. Dirinya, takut jika suatu saat dirinya bukan dia. Ia takut semua pelan tapi pasti menjauh darinya.

Dan satu kalimat terakhir disetiap lamunannya, “ aku hanya ingin semua baik-baik saja. Dan berjalan sesuai semestinya. Hanya itu. itu saja. “ Terdengar samar, pelan dan selalu menghilang pergi bersama angin yang bertiup kencang.

Minggu, 26 Oktober 2014

NOTHING


Tak ada jiwa.
Karena jiwa itu sudah menghilang.
Tak ada jiwa karena mungkin ia mulai mati.
Hm.
Tak tahu.
Yang pasti raga ini, pelan tapi pasti membusuk.

Tak tahu,
Akankah membusuk kembali menjadi sampah?
Ataukah membusuk lalu mati, dan terlahir kembali.
Ha Ha

Tunggu saja.
Tunggu, akankah sampah bisa menjadi sesuatu yang berguna?
Ataukah sampah itu akan dibiarkan terbuang sia-sia.

Itu semua tergantung padanya.
Atau mungkin tergantung pada kalian???
Entahlah.

                                                                             ~ Marsya Sataly ~

Selasa, 07 Oktober 2014

pure love


Senandung lagu menyelimutiku. Tak merdu tak beraturan.
Tak apa, setidaknya ia menghiburku.
Angin bertiup kencang. Kencang menusuk tulang.
Seakan ia berkata padaku, “aku selalu ada untukmu”
Walau rintik hujan tak hadir. Tetapi, bulan menampakkan kehangatannya.
Seakan ia memelukku dengan hangat.
Terima kasih, terimakasih.

Kali ini aku memutuskan untuk mengakhirinya.
Mengakhiri semua.
Entahlah.
Ini hanya sekilas, atau memang selamanya.
Hanya saja aku tak bisa seperti ini.
Takkan bisa.

Kali ini,
Aku tak menitikan air mata. Karena ia sudah terkuras habis waktu itu.
Aku hanya bisa menangis dalam hati. Tak tertahankan, tak terperihkan.
Tak apa aku baik-baik saja.

Aku akan kembali.
Aku akan senang bila angin menemaniku.
Aku jauh lebih senang, bila rintik hujan menjadi sahabatku.
Aku paling senang, saat rembulan memelukku.
Hm,
Tak tahu hanya sesaat atau selamanya.
Aku tak tahu pasti.
Yang pasti,
Saat ini aku berbohong.
Karena, aku menginginkan kau berada di sisiku.
Haha,
Anggap saja kau tidak tahu.

Aku harap kau membaca tulisan ini.
Karena aku ingin berpesan, coba tengoklah dirimu sekali lagi.
Lihatlah batinmu, lihatlah hatimu.
Jika kau melihat sesuatu, sesuatu yang membuatmu terbelenggu,
Maka sadarlah.
Sadarlah, bahwa kau sedang bersembunyi.
Bersembunyi dari apapun yang menurut alam bawah sadarmu menyakitkan.
Sadarlah, bahwa kau tak selamanya ada di dalam situ.
Di zona amanmu. Bukan, bukan zona aman.
Namun, setidaknya cobalah untuk menghadapi mereka.
Mereka yang membuatmu berfikir.
Membuatmu terluka, membuatmu kesal, membuatmu serba bingung.
Buatlah sebuah patokan. Janganlah mengikuti alur.  Karena nanti bisa jadi kau akan tersesat.
Mungkin kau bingung.
Hanya saja,cobalah kau cermati.
Bukankah kau ahli dalam mencermati?
Cobalah kau telusuri.
Bukankah kau bilang bahwa kau sang pengendali?

Tak apa jika kau belum menemukannya.
Hanya saja berusaha.teruslah berusaha, hingga apa yang kau cari menghampirimu.
Jangan pula kau berfikir bahwa diriku terluka.
Tidak. Tenanglah, hanya sedikit luka yang tertancap.
Namun,itu semua  bukan salahmu, bukan juga salahku.

Hanya seperti itu,
Aku berharap hubunganmu dengannya baik-baik saja.
Jaga selalu kondisimu, baik-baiklah dengan ragamu.
Semangatlah untuk meraih cita-citamu.

Ini bukan sebuah perpisahan.
Aku akan tetap disini.
Hanya saja mungkin aku akan sedikit berbeda.

Namun,
Jika memang, suatu saat nanti kau butuh bantuan.
Tak apa kau menghubungiku. Aku akan dengan siap sedia membantumu.
Jika memang kau sedang kebingungan, tak apa. hubungi aku saja,
Jika memang itu membuatmu menjadi tenang.
Jika kau sedang membutuhkan teman, datanglah padaku.
Tak apa. Aku akan menjadi teman baikmu.
Jika kau sudah sangat lelah dan berada dalam titik jenuh dalam kehidupanmu,
Tak apa. Bersandarlah di bahuku.

Tenang.
Aku tak meminta apapun darimu.
Aku tulus.
Aku benar-benar tak mengharapkan sesuatu darimu.

Mungkin kau anggap aku terlalu egois.
Tak apa. Aku terima.
Hanya saja,inilah aku.

Aku yang tak sengaja mencintaimu.
Mencintai seseorang yang tak h
arus kucintai.
Tak apa,aku tak menyesal.
Setidaknya,aku hadir dikehidupanmu.
Aku akan terima, apapun yang kau lakukan padaku.

Aku,
Saat ini, akan mengikuti alur yang kau buat.
Sampai kapan?
Entahlah. Setidaknya aku sangat peduli dirimu.
Dan jika tak ada seorangpun yang mendukungmu.
Akanku pastikan,aku mendukungmu.
Aku akan berusaha selalu ada untukmu.
Karena aku benar-benar mencintaimu tanpa pamrih.
dan terimakasih,
dari kau,
aku belajar dan mendapatkan apa yang namanya buah ketulusan.

Jumat, 03 Oktober 2014

;(



Tertunduk lesu, gadis itu merenung.
Sesekali mengusap rambutnya,
Sesekali terdengar rintihannya,
Sesekali ia membenturkan kepalanya ke dinding,
Agak pelan, namun menimbulkan ritme yang tak beraturan.

Hari ini,
Gadis itu tak membawa apa-apa
Ia hanya membawa dirinya,
ia ingin berintim dengan dirinya,
Ia hanya ingin berdamai dengan dirinya,
Ia hanya ingin tenggelam bersama dirinya.

Saat ini,
Ia berusaha,
menilik lebih dalam,
Menilik sesuatu yang berada didalam raganya,
Sesuatu yang tak berwujud namun dapat dirasakan keberadaannya,
Sesuatu yang bening,polos dan tak terjamahkan,
Sesuatu yang menenangkan dan menyejukan,
Sesuatu yang takkan pernah berbohong,
Sesuatu yang sangat misterius,

Ha ha ha.

Gadis itu benar-benar mencarinya,
Ia mencermatinya dengan saksama,
Ia mencermati hingga sampai pada relung hatinya,
Ia sangat cermat,
hingga satu bagian pun tak terlewatkan,
seakan-akan ia adalah pengamat yang handal.

Ha ha.

Sudah sekian ribu butiran air matanya terjun bebas,
Membasahi apapun yang ia lalui,
air mata yang selalu tertahankan,
air mata yang sebenarnya indah baginya.
indah,karena ia benar-benar merasa menjadi seorang wanita.

Terbesit dibenaknya, bahwa ia menyia-nyiakan waktu.
karena tak disadari, satu hari ini ia hanya seperti itu.
namun,
beberapa detik kemudian,
pikiran itu melebur,
ia menghiraukannya,
karena saat ini ia merasa tenang.
dan, ia benar-benar membiarkan semua itu terjadi.

Tidak seperti dahulu, ia selalu menghadang dan mengusirnya.
Seolah itu, itu suatu hal yang memalukan.
Tidak, saat itu, gadis itu salah.
Karena baginya,
Saat ini. Ketika mereka hadir disela-sela kehidupannya,
Itu menandakan bahwa dirinya masih hidup.
Bahwa dirinya masih menjadi manusia,
Bahwa dirinya bukan malaikat apalagi iblis,
Bahwa dirinya memiliki perasaan.

Gadis itu marah.
Namun ia tak berdaya.
Gadis itu sedih.
Namun tak bisa mengutarakan.
Gadis itu, memang tak bisa marah, tak bisa mengutarakan.
Gadis itu memang tak bisa berbuat apa-apa.

gadis itu hanya bisa satu hal.

menangis.

ya, ia hanya bisa menangis.

Setidaknya dengan menangis, Ia ingin menyampaikan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.