Rabu, 23 September 2015

Malam, Takbiran. . .

Hahaha, langit senja kali ini tampak begitu indah. Yaa indah seperti biasa. Kali ini aku tak ada feel menulis sebenarnya. Hanya saja, dari hati kecilku aku rindu sekali melihat jari jemariku berlari kesana kemari merangkai sebuah cerita. Sebuah cerita yang sederhana, tak perlu dibuat-buat, hanya mengalir saja, karena sebenarnya dibalik kesederhana itu menyimpan sesuatu yang rumit nan detail.

Hm... aku berhenti menulis sejenak tadi. Kondisiku dengan tadi agak berbeda. Entah mengapa tubuhku terasa hangat sejadinya. Kali ini, aku merasa tak enak badan sungguhan. Apa mungkin karena jam malamku sangat larut beberapa hari ini. Ah, tak tahu pasti. Yang pasti aku tidak sedang berfikir. Aku malah sedang belajar enjoy disetiap aktifitasku. Sesekali aku bercengkrama dengan orang baru. Sesekali mencari info sana sini. Aku sedang jarang membaca. Terakhir dua hari lalu aku hanya menyelesaikan bacaan yang tinggal setengah buku. Selepas itu semua, aku sedang sering menemui atau bertemu dengan teman lamaku. Yaa sebenarnya semua itu hanya ingin mengisi waktuku menanti proposal penelitian selesai di revisi.

Hm.. aku tak ada target lulus. Aku hanya membiarkan semua mengalir saja. Mengalir dengan kendali. Benar sekarang aku lebih slow dari yang dulu. Lebih enjoy dari yang dulu. Lebih simple dari yang dulu. Dan sedikit lebih manis dari yang dulu. Haha. Sesekali memuji diri sendiri kan gak papa. Gak ada yang keberatan kan? Haha.

Sejujurnya, aku sedang tidak merasa sendiri. Yaa acaraku di lain itu hanya untuk have fun, mengasahku menulis dan yaa hanya iseng saja. Aku tak merasa benar-benar sendiri. Yaa, memang sesekali. Hanya saja, saat ini aku hanya benar-benar ingin memantaskan diriku. Persiapan sudah bukan tujuanku saat ini. Memang masih ada banyak hal yang harus aku siapkan, hanya saja aku sudah ingin memantaskan diriku. Melayakkan diriku. Membuat diriku nyata.

Hm aku bukan sosok yang super ambisius, bukan seseorang yang harus mencapai apa yang diinginkan. Bukan. Aku hanya, hanya ingin memantaskan diriku, membuktikan diriku bahwa aku memang layak dan pantas untuk menjadi sesuatu. Aku tak ingin menunjukan pada siapa-siapa, setidaknya aku hanya ingin menunjukkan itu semua pada diriku sendiri. Dan biarkan diriku ini menjadi saksinya.

Oh My God. Tubuhku terasa panas sekali. Sesekali aku mendengar perutku yang berbunyi. Bukan kelaparan, hanya mungkin ia sedang menyeruakan suara kepedulian padaku. Sering kali bunyi tuts keyboard beriringan dengan suara detak jantungku. Oh My God, hamba-Mu ini sebenarnya seperti apa? Haha. Aku sebenarnya tidak benar-benar tak tahu arah. Tidak. aku sudah mulai mengerti dan menyadarinya. Hanya saja aku belum sadar betul akan hal itu.

Sungguh aku sedang merasakan kerinduan yang amat.

Aku rindu,aku rindu sekali, sangat rindu, rindu dengan hembusan angin malam, malam yang berwarna hitam legam sangat pekat, malam yang benar-benar sunyi senyap tak ada suara yang berderu, dan saking senyapnya hingga sehelai daun jatuh, sentakannya menimbulkan suara. Aku rindu saat panggilan-Mu lebih mengena didengar, lebih masuk dalam relung jiwa, lebih hangat dari belaian Sang Bunda. Suasana yang begitu dingin, dingin yang menusuk tulang, membekukan daging segar, menggigilkan tubuh, memberi peringatan pada otak untuk menyegerakan  sumber kehangatan, menghentakkan seluruh tubuh meminta untuk dimanjakan.

Ah benar-benar, aku sangat rindu dengan deburan air yang jatuh membasahi raga dan sukmaku. Aku hanya rindu pada suara ayam berkokok bersaut-sautan, ku hanya rindu pada suara jangkrik yang menderu, Ku hanya ingin berjalan di gelapnya malam, ku hanya ingin bangun dari tempat tidurku yang melenakan, Ku hanya ingin bebas dari belenggu ini. belenggu yang memekikkan leherku, menyesakkan dadaku, menyumbat pernafasanku, membuatku tak hidup,membuat hati mati, membuat suasana menjadi kacau, membuat semuanya menjadi tak bergairah.  

Yaa, hanya ingin berkata, aku rindu dengan kumandang adzan subuh. Aku rindu untuk bangun dan bergegas pergi mendekati-Mu, ku hanya ingin bisa bangun untuk memenuhi panggilan-Mu, bukan..  bisa jadi, aku hanya ingin bangun untuk melaksanakan kewajibanku sebagai seorang yang beriman. Ku hanya ingin bisa bangun dan solat subuh berjamaah. Atau mungkin, aku benar-benar sangat rindu dengan-Mu Ya Robb?

Kumandang takbir bersaut-sautan. Terbesit perasaan aku rindu pada simbah Solo. Ah,,  sangat rindu padanya. Aku hanya berkata lirih, “aku rindu simbah, hanya saja aku tak ingin cepat menyusulmu, aku ingin menuntaskan apa yang sedang aku mulai, aku hanya bisa menitipkan sebuah doa untukmu dan tunggulah aku barang sebentar, bukankah hidup seperti mampir tuk minum?
Aku menghela nafas panjang-panjang. Aku hanya berharap, semoga seluruh angin yang berhembus, seluruh suara takbir yang berkumandang, seluruh jiwa yang ada, mengiringi perkataan dan bisikku yang terakhir di malam ini,

“Ridhoi aku Tuhan untuk bisa selalu menemui-Mu di waktu subuh” dan semoga bisikan yang sangat lirih ini,tak hanya membentur di dinding-dinding kamarku.

Menikmati lantunan takbiran
dengan tubuh yang panas
tanpa asap
                                                                                                           ~Marsya Sataly~

Sabtu, 19 September 2015

Sore, Malam Minggu Part 6


Hahay,,,,hy guys....
Sudah sore, malam minggu saja. Balik lagi dengan saya Marsya Sataly yang semakin manis dan imut di acara yang hampir punah yaitu sore, malam minggu. Kali ini sudah sesi ke enam dan saya masih tetap setia dengan kejonesan saya. Hahahha

Okeh, kali ini aku ga pengin menceritakan kejonesanku yang semakin meradang, aku hanya ingin mencurahkan apa yang di rasa oleh hatiku. Lho? “sama aja tau!” hatiku berkata. Haha. Shit. Lagi-lagi itu si hati gua komen terus.

Hm,, ya si, sebenarnya ujung-ujungnya aku pasti kan bercerita tentang kejonesanku yang mulai nes nesan gitu. Sebenarnya aku udah gak mau mengadakan acara ini, tapi karena banyak yang menanyakan kelanjutan cerita gua terlebih mengenai kejonesanku, so. Gua akhirnya lanjutkan. Berhubung aku suka ngomong gua gua terus dari tadi, bukan maksud ingin sok gaul atau ke Jakartaan, kagak. Aku cuma pengin merakyat saja. Abis, temen deket kknku ada yang anak Jakarte gitu, sampai sekarang kebawa dah.

Hm,, ceritanya mondar-mandir nih. Ga konsisten. Haha. Sorry, sebenarnya aku bingung mulai dari mana lagi ini acara, abis yang kemarin aja suka loncat-loncat ceritanya. Seingetku acara pertama aku memperkenalkan semua “cem-cemanku” yang kedua, gua kaya pasrah gitu jonesnya, ketiga n keempat aku cerita tentang Domba, yess. He is my charming prince, but dia sudah ada yang punya. Hust. Jangan keras-keras ngomongnya, entar istrinya bisa ngedampret aku. Haha. Yang ke lima aku cerita tentang Kangguru. Hm, gini deh aku urut-urutin lagi yaaa.

Mulai dari awal aja yaa, yang aku tembak itu namanya Kambing, saat itu aku masih kelas 5 SD. Waktu itu sebenarnya aku lupa kita sahabatan berapa tahun, yang pasti seingatku mulai kelas 3  aku sudah mulai memandangnya diam-diam. Di kelas 4 aku sudah buat sebuah geng. Ya katakanlah bernama “CERARI” haha, ini nama betulan sebenarnya singkatan dari nama kita bertiga. Aku, kambing dan satu temen laki-laki kami juga. Alhasil, seperti yang diceritakan di sore malam minggu 1 waktu itu, aku menembaknya atas saran dari mba Lia tetangga. Saat ia membalas cintaku, jiah bocah SD ngomong cinta? Haha setidaknya ini realita yang terjadi saat ini, yang pasti waktu itu aku Cuma suka aja sama dia, dan entah mengapa dia juga suka sama aku, padahal aku gak pakai ilmu santet dan pelet, haha intinya kami berdua sama-sama suka.

Awalnya kita langsung duduk sebelahan. Temen sebangku dan sebangkunya terpaksa duduk bareng. Terus kita mulai kerjasama gitu, entah dalam hal apapun, mulai dari beli jajan di koperasi bareng, ke UKS bareng, kebetulan dia itu dokter kecil, terus ngerjain tugas bareng, ulangan juga bareng yang pasti aku lebih sering nyontekin di ketimbang mikir sendiri, hehehehe, ya ukurann kecerdasan orang kan berbeda, terus pernah kita ikut paduan suara gitu, kami berdua pernah mau ikut lomba LCC PRAMUKA, tapi sayang dia ga lolos, padahal aku waktu itu merekomendasi dia buat jadi peserta ketiga. Sayang, gak jadi bareng dan ini bukti bahwa kami melengkapi, hahahaha. Aku lebih suka ke hal-hal fisik, dan dia ke pikiran / otak haha. Jadi aku ga bodong-bodong banget lah, wkwk.

Pernah sahabat kami mau khitanan. Sahabat yang satu geng “CERARI” itu. terus sebagai kawan yang baik, kami berdua akhirnya maut tak mau harus kondangan. Si kambing beserta keluarganya menjemputku dirumah. Aku bersiap-siap lalu kami berdua di antar ke rumah sahabat kami itu. setibanya, ayahnya kambing berkata” mbing, nanti kalau sudah selesai telpon bapak.” “iya pak.” Saut si kambing, aku hanya mantuk-mantuk dan melihat ibunya tersenyum padaku. Entah mengapa, mungkin ibunya kambing mengharapkanku jadi pendamping hidupnya kambing kali ya? “ngarep banget kayanya kamu yaaa?” tiba-tiba suara hatiku menyambar seperti guntur. Ckck. Hmmm, memang benar juga kata hati itu buktinya kita udahan. Wkwk

Singkat cerita, kami berdua kaya sepasang kekasih yang kondangan di acara hajatan kawannya. Haha, dan mau tau kami ngapain aja? Selepas orang tuanya kambing pulang. Aku dan dia duduk sebentar di kursi belakang, kita ngobrol mau gimana inih. Mau masuk lagi banyak banget orang dan bisa dipastikan banyak saudara kawan main kita itu. di sisi lain, masa kita gak masuk, padahal kita udah siapin hadiah buat dia. Dan perdebatan sengit dengan rasa penuh kasih sayang kami berdua. akhirnya kami menerobos ingin masuk kerumahnya. Setelah masuk, kita langsung kearah kamarnya dan disana ada Rama katakanlah itu nama sebenarnya. Haha. Akhirnya kita ngasih kadonya ke rama, belum lima menit aja kita cerita-cerita, eh masih banyak aja tamunya yang ingin masuk melihatnya. Yaahh, mau tak mau kami berdua keluar dan mulai lagi acara gabut tak jelas kami dimulai. Haha

Terlintas diingatanku saat itu kita memang bingung, malu plus campur aduk. Entah mengapa karena mungkin setelah kami keluar, rombongan guru sekolahku ada dan mereka melihat kami berdua. Oh My God,,,, gak ada apa=apa sih sebenarnya, Cuma kita pengin pulang ajah waktu itu. akhirnya ibunya Rama melihat kami yang kehilangan arah, dan ia mempersilahkan dan bahasanya lebih tepat menyuruh kami untuk makan. Akhirnya kita ambil makanan di meja prasmanan dan sudah dipastikan kita makan. Pas makan si Kambing dan aku mengobrol serius, obrolan kita akhirnya menemukan titik terang yaitu menelpon bapaknya si Kambing untuk menjemput kami.

Dan, ternyata, saat si kambing telpon dengan bapaknya, terdengar kata-kata, “lhaa cepet banget nak? 

Orang bapak baru aja sampai depan rumah koh inih, malah kamu minta pulang. Tahu gitu bapak sama ibu nungguin aja tadi.”

Hahahahhahaa. Begitu secuil ceritaku dengan kambing. Haha ga lucu ya?

Yaaa kan aku ga niat untuk nglucu, Wkwkwk. Aku Cuma ingin flashback aja sama kambing. Jadi inget kambing, sekarang lagi ngapain yaaa?

Hm,, tapi setahun kemudian saat kita sudah putus. Bapak kambing meninggal karena sakit. Saat itu aku pun ikut berduka. Kebetulan saat itu bapaknya dimakamkan di Pemakaman deket sekolah, sehingga semua anak kelas saat itu melayat, dan ternyata kuburannya tak jauh letaknya dari kuburan simbahku yang dari ibu. Sehingga terkadang saat aku melayat sowan ke tempat simbah, aku sempatkan sebentar mampir ke tempat bapaknya kambing ya hanya sekadar membersihkan kuburannya dan mengirimkan al-fatihah. Setidaknya aku pernah mengenal kehangatan yang tulus dari bapaknya kambing.


Setelah lulus SD kami tak pernah bertemu, bermain bersama pun tidak, dan tiba-tiba kami bertemu lagi saat SMA. Saat itu pun, kami hanya senyum apabila berpapasan. Yaaa mungkin karena kami sudah besar kali yaa, udah punya gengsi. Haha. Yang pasti, ia adalah cowo yang berhasil ku tembak dan berhasil banget bikin aku malu, karena, kok bisa aku nembak cowo duluan??? 
Mba lia dasarrrrr!!!! Thank sudah membuatku menembak cowo, semoga itu yang pertama dan terakhir, dan untungnya ia tak mati klepek-klepek. Hahahaha


Jumat, 04 September 2015

sataly


Lagi-lagi gemricik air di teras depan menemaniku. Lagi-lagi malam dingin yang menusuk menemaniku. Lagi-lagi jari jemariku menari kesana kemari merangkai kata demi kata. Saat ini, hujan masih enggan tuk turun. Mungkin karena ia sedikit malu karena sudah lama ia tak menampakkan dirinya. Angin malam ini berhembus begitu kencang, membuatku menarik sedikit selimut menutupi kakiku.

Tidak ada asap disini, tidak ada sesuatu hal pula yang mengganjal dalam pikiranku. Hanya saja, disini. aku menunjuk di dalam dadaku ini, ada sesuatu yang sedang aku rasa. Bukan tentang laki-laki bukan. Bukan pula rindu pada seseorang, bukan. Ini tentang hati. Qalbu. Yang menuntut untuk dilihat. Menuntut untuk diperhatikan, dan menuntut untuk diperbaiki. Haha, tak ada yang tahu, kecuali diriku sendiri. Aku hanya, hanya ingin mengenalnya, bercengkrama dengannya, dan menikmati keberadaanya.

Terkadang hatiku begitu bahagia,, namun tiba-tiba hatiku merasa begitu sedih, entah apa yang terjadi disana, aku tak begitu paham. Yang pasti ia menuntut keadilan dalam diriku. Ah, benar-benar entah apa yang harus ku lakukan, dihadapanku saat ini masih benar-benar misteri. Terkadang aku bersatu dengannya, terkadang aku bertentangan dengannya, terkadang kami begitu akur, terkadang kami begitu berbeda. Terkadang kami membohongi satu sama lain, terkadang kami menutupi satu sama lain. Haha. Mengenal diri sendiri memang susah-susah gampang.
Sesungguhnya aku butuh teman. Hanya untuk berbagi. Namun sayang, kelihatannya ia pun masih susah untuk mengayomi dirinya sendiri, teman yang lain? Sepertinya tidak. karena sepertinya mereka begitu terlena dengan dunia ini. Teman yang lain lagi? Haha. Tidak. karena mereka begitu tidak menikmati hidup, mereka sibuk dengan keyakinan mereka, sibuk dengan teori mereka, sibuk dengan pegangan mereka, sehingga tak mau membuka mata untuk hal lain. Diriku?

Aku sebenarnya hanya ingin memampukan diriku. Bertindak adil sejak dalam pikiran terlebih perbuatan. Aku hanya ingin siap mati, namun juga selalu ingin menikmati hidup. Aku hanya ingin air dan api dalam diriku seimbang. Atau bahkan aku ingin air dalam diriku sedikit lebih unggul dalam hidupku. Aku hanya ingin perkataanku sesuai dengan perbuatanku, aku hanya ingin menyatukan hati dan pikiranku. Aku hanya ingin menjadi pribadi yang pener, aku hanya ingin qalbuku ini akan selalu ada hingga nafas terakhirku. Qalbu yang benar-benar patut disebut Qalbu.
Qalbu yang begitu bijaksana, tak kenal pamrih, tak dapat melihat namun begitu perasa sehingga ia tak pernah memandang bulu. Aku hanya berharap Qalbu ini akan menuntun ke jalan yang terang sangat terang sehingga siapapun dapat melewati cahayanya. Aku hanya dapat memohon Sang Pencipta, berharap qalbu mendengarnya, berharap qalbu tahu ketukan ini tak main-main sehingga ia bisa membuka pintunya dengan senang hati.

Mengapa qalbu? Karena qalbu bukan harta dan lebih penting dari ilmu pengetahuan. Qalbu adalah kartu As Waru dalam hidupku, yang akan membuat hidupku harum bukan karena pewangi, cantik tanpa kosmetik serta indah perangainya. Hanya itu. itu aja.

Tersenyum penuh harap,
     ~Marsya Sataly~

Selasa, 28 Juli 2015

bukan catatan

Shit. Aku berbisik dalam hati. Hanya delapan hari, batinku berkata. Yaa mati. Hidup sangat erat. Sangat. Aku benar- benar mematikan feel tulisanku. Tapi, akhirnya aku menyerah saat ini. Sejujurnya aku sudah tak ingin menulis. Entahlah. Terkadang sesuatu terjadi tak perlu alasan bukan? Dan ya salah satunya adalah "jatuh cinta". Haha. Shit men! Lagi - lagi ngomong cinta. Jujur, aku mematikan feel menulis yaa karena itu. Ckck. Jika bisa aku ingin menangis tersedu- sedu kali ini.Mencoba memohon hati dan menghentikan tarian jari jemariku mengetik. Aku tak ingin menulis. Tetapi entah mengapa semua itu
tetap berjalan, hingga tulisan ini ada. Ckck

Besok sudah pergi saja. Ahhh, entah mengapa aku tak bisa meninggalkan ruang ini.? Ntah kenapa aku tak ingin pergi. Haha. Yaa. Dia datang lagi. Apa yaa namanya, yang pasti sesuatu seperti peringatan atau hm. Pengingat? Atau pedoman? Ah entahlah. Aku hampir sering bingung sendiri. Haha. Aku memang pemikir. Dan mulau dari kapan aku sngat suka hal yang detail, hingga terkadang sahabatku berkata bahwa aku itu orangnya pemikir yang mendasar. Ah entahlah. Yang pasti hatiku jauh- jauh lebih mendasar hingga ke dasar laut. Mungkin gitu kali perumpamaannya. Hhaha. Kali ini aku bercanda. Dan berdasarkan pengamatanku di dalam becanda sebenarnya ada sepersekian persen dari serius. Haha. Simpulkan saja sendiri.

Hm...
Hmmm...
Ehmmmm...

Setiap orang pasti punya rasa takut. Aku pun begitu. Sampai lagu saja aku takut. Aku juga takut setan. Maksudnya yang "menampakan wujudnya". Selebihnya? Haha. Maaf aku jauh lebih takut dengan Sang Pencipta. Hahaha. Sebenarnya ada lagi. Aku takut sama kematian. Sungguh. Yaa apa lagi kalau matinya ninggalin kesalahan se TPA gunung tugel. Haha. Aku takut sangat ketakutan kehilangan orang yang aku sayangi
Aku taku mereka meninggalkanku terlebih dahulu. Aku, aku takut aku tak berguna
Aku takut tak bisa melakukan apa- apa. Aku takut tak bisa melawan penindasan. Aku takut tak bisa menumpas kemlaratan. aku takut aku jahat. Aku takut aku menyakiti orang lain. Aku takut. Aku? Hal yang aku takuti saat ini adalah aku takut di tinggal untuk kedua kalinya. Aku takut di tinggal seseorang yang namanya terukir dalam hatiku. Saat ini aku bingung perasaan itu masih ada atau tidak. Hanya saja jauh di dalam hatiku aku hanya takut ia benar-benar mengikat janji suci pada yang lain.

Hahahahahah. Hanya ketakutanku saja. Bukan yang lain. Setidaknya aku pasti akan mati. So. Setakut apapun itu aku dengan kematian. Aku tak bisa berlari darinya. Begitu pula dengan dia. Jika hal itu terjadi. Aku akan mengubur rapat-rapat perasaan itu. Tak membiarkan cela cahaya dapat menembusnya dan selamat tinggal.
Cintaku tak menuntut memilikimu.

siapa lagi kalau bukan saya
~ MarsyaSataly~

Bukan catatan

Shit. Aku berbisik dalam hati.  Hanya delapan hari, batinku berkata. Yaa mati. Hidup sangat erat. Sangat. Aku benar- benar mematikan feel tulisanku. Tapi, akhirnya aku menyerah saat ini. Sejujurnya aku sudah tak ingin menulis. Entahlah. Terkadang sesuatu terjadi tak perlu alasan bukan? Dan ya salah satunya adalah "jatuh cinta". Haha. Shit men! Lagi - lagi ngomong cinta. Jujur, aku mematikan feel menulis yaa karena itu. Ckck. Jika bisa aku ingin menangis tersedu- sedu kali ini.Mencoba memohon hati dan menghentikan tarian jari jemariku mengetik. Aku tak ingin menulis. Tetapi entah mengapa semua itu
tetap berjalan, hingga tulisan ini ada. Ckck
Besok sudah pergi saja. Ahhh, entah mengapa aku tak bisa meninggalkan ruang ini.? Ntah kenapa aku tak ingin pergi. Haha. Yaa. Dia datang lagi. Apa yaa namanya, yang pasti sesuatu seperti peringatan atau hm. Pengingat? Atau pedoman? Ah entahlah. Aku hampir sering bingung sendiri. Haha. Aku memang pemikir. Dan mulau dari kapan aku sngat suka hal yang detail, hingga terkadang sahabatku berkata bahwa aku itu orangnya pemikir yang mendasar. Ah entahlah. Yang pasti hatiku jauh- jauh lebih mendasar hingga ke dasar laut. Mungkin gitu kali perumpamaannya. Hhaha. Kali ini aku bercanda. Dan berdasarkan pengamatanku di dalam becanda sebenarnya ada sepersekian persen dari serius. Haha. Simpulkan saja sendiri.
Hm...
Hmmm...
Ehmmmm...
Setiap orang pasti punya rasa takut. Aku pun begitu. Sampai lagu saja aku takut. Aku juga takut setan. Maksudnya yang "menampakan wujudnya". Selebihnya? Haha. Maaf aku jauh lebih takut dengan Sang Pencipta. Hahaha. Sebenarnya ada lagi. Aku takut sama kematian. Sungguh. Yaa apa lagi kalau matinya ninggalin kesalahan se TPA gunung tugel. Haha. Aku takut sangat ketakutan kehilangan orang yang aku sayangi
Aku taku mereka meninggalkanku terlebih dahulu. Aku, aku takut aku tak berguna
Aku takut tak bisa melakukan apa- apa. Aku takut tak bisa melawan penindasan. Aku takut tak bisa menumpas kemlaratan. aku takut aku jahat. Aku takut aku menyakiti orang lain. Aku takut. Aku? Hal yang aku takuti saat ini adalah aku takut di tinggal untuk kedua kalinya. Aku takut di tinggal seseorang yang namanya terukir dalam hatiku. Saat ini aku bingung perasaan itu masih ada atau tidak. Hanya saja jauh di dalam hatiku aku hanya takut ia benar-benar mengikat janji suci pada yang lain.
Hahahahahah. Hanya ketakutanku saja. Bukan yang lain. Setidaknya aku pasti akan mati. So. Setakut apapun itu aku dengan kematian. Aku tak bisa berlari darinya. Begitu pula dengan dia. Jika hal itu terjadi. Aku akan mengubur rapat-rapat perasaan itu. Tak membiarkan cela cahaya dapat menembusnya dan selamat tinggal.
Cintaku tak menuntut memilikimu.
siapa lagi kalau bukan saya
~ MarsyaSataly~

Senin, 20 Juli 2015

Sore, Malam Minggu Part 5

Sudah sore, malam minggu saja. Haha. Bertemu lagi di acara yang sama dengan saya Marsya Sataly yang semakin manis setiap harinya. Hahhaha. Yang pasti ini aku yang berbicara. Oke, kali ini aku sedang tidak ingin berbicara tentang kejonesanku yang semakin meradang. Haha. Tidak. tidak. aku hanya ingin memperkenalkan sisi lain, yaa lagi-lagi masih dalam soal percintaan. Yaa tidak jones-jones amat lah, kata Dinda “jones ajah”. Haha. Hmmm, sebenarnya aku memang masih gamov.

Kalian tahu apa? haha, gamov memang berasal dari kamus hidupku, yang berarti gagal move on.
Kenapa aku gamov??? Ya karena aku ga move on. Jadi gamov. Haha. Ngomong-ngomong tentang gamov, aku memang masih jones. Huhu. “akhirnya kamu ngaku juga” hatiku menyaut. Ah. Ini hati oon. Gara-gara dia aku gamov. Sebenarnya aku bisa-bisa saja move on. Cumaaa,,, karena gamov itu aku jadi gak bisa move on. Ya iyalah, hubungan kausatif koh. Haha. 

Bicara tentang gamov. Aku sebenarnya ga jones-jones banget. Sebenarnya ada beberapa orang, ya sebut saja para kaum adam mendekatiku. Haha, tidak beberapa hanya sebenarnya cukup menemani kesendirianku. Ya mereka cukup dekat denganku. Ada teman kampus lain, ada teman main, ada temannya temanku, sampai ada teman baruku, sampai ada yang meminta kenalan denganku. Bukan sedang menyombong atau bagaimana. Sebenarnya ada yang tampan, ada pula yang jago bermain musik (lagi-lagi)ckck, ada juga yang sudah bekerja, ada juga yang sedang sibuk naik gunung terus, dan ada juga yang alim. 

Haha. Hampir semuanya hadir, pergi, hadir, pergi sekenanya. Aku pun sekenanya juga menangggapi mereka. ya mereka yang menjadi teman dekat sekaligus apalah namanya. Pernah suatu ketika, ada yang memintaku jalan, hanya saja yang lain secara bersamaan juga meminta. Jadi ya aku menolak semua. Ya hanya menjaga perasaan dan aku tekankan disini, aku tak mengumbar perasaanku, karena. Karena itu berada di dalam, sudah tertutup berlapis-lapis dan tak tahu kapan akan keluar lagi. Sayangnya, yang berada di dalam itu hanya terukir satu nama dan dia sudah ada yang punya. Haha. Bodoh bukan diriku?

Hm. Bicara tentang dia yang berada di dalam hatiku. Aku tak tahu betul mulai kapan aku menyukainya. Padahal saat bertemu dengannya pertama kali, aku tak ada rasa. Yaa sebenarnya selain Domba, semua pasti melalui proses. bukan tiba-tiba aku langsung suka pada pandangan pertama. Ngomong-ngomong ada satu orang lagi sebenarnya, selain Ular dan Kuda. Ya mungkin baru satu tahun dekat denganku. Ia sepantaran dengan Ular, sebut saja Kangguru.

Kangguru, aku mengenalinya saat sedang berkumpul dengan temanku. Ia tampan parasnya maupun akhlaknya. Aku, hanya kadang-kadang bertemu dengannya. Sebenarnya aku awalnya tak ada rasa. Aku hanya menganggapnya seperti kakak kandungku. Dia sangat perhatian padaku, baik pada keluargaku, dan memang orangnya agak sedikit tertutup. Hanya saja, saat aku berada di dekatnya aku sangat enjoy, menikmati dan sangat nyaman. Dia salah satu orang yang tahu betul aku. Yaa, tahu ceritaku dengan Ular. Kuda? Ah aku tak mau menceritakannya. Karena? Haha. Dia sepertinya menyukaiku. 

Sempat satu tahun aku berkenalan dengannya, kami bertemu, dan ya, ia menanyaiku tentang hubunganku dengan Ular. Ia selalu marah setelah aku ceritakan. Ia? Sampai akhirnya satu hari menjelang lebaran, ia main kerumah. Ia berpamitan padaku, karena ia mau mudik. Dan tahu? Ia memarahiku besar, dan aku tak bisa berkutik. Aku memang sangat menghormatinya, entah mengapa walau kami pun jarang kontak-kontakan. Ia memarahiku habis-habisan. Entah tak tahu betul. Mungkin karena ia membaca catatanku sebelum ini dan ia langsung menghubungiku, meminta ketemuan. Saat itu,aku yang memang sedang tak ingin bertemu siapapun menolaknya. Hingga malam takbiran itu, ia menyuruhku keluar, ia sudah berada di depan rumah. Awalnya gelagatnya baik sih, apalagi wajahnya itu seperti memancarkan ketenangan. Namun setelah itu, ia benar-benar memarahiku. 

“ADA APA KAMU? KENAPA LAGI? SUDAH AKU BILANG BERKALI-KALI BUKA HATIMU!” ia memandangku lekat-lekat. Aku hanya menunduk. Sontak ia memegang tanganku. Menegakkan daguku supaya bisa memandangnya. Akhirnya, aku menatapnya. Aku dapat membacanya, ya. kedua kelopak mata itu surut, suram, menyimpan kesedihan, amarah dan kasih sayang. Aku menyadari betul. Saat itu aku hanya bisa berkata “maaf” dalam hati.

“ KENAPA DIEM AJA! APA PERLU AKU HAJAR TU ORANG?” suara Kangguru meninggi.

“jangan Kang.” Aku hanya mampu melihatnya lekat-lekat.

“ TRUS MAU GIMANA? MAU NUNGGU SAMPE TUA? MASIH MAU NUNGGU YANG GAK 
JELAS? APA PERLU MAS YANG NGADEPIN DIA? HAH!”

“jangan Kang. Jangan. Jangan gitu mas. Plis jangan bilang kaya gitu.” Aku menunduk lagi. Aku tak bisa melihat raut wajahnya. Aku sedang tak ingin mengungkit dia. Dan tiba-tiba air mataku jatuh. Ia melihatku dengan pandangan yang tajam, aku hanya tak ingin membuatnya terluka. Aku hanya takut melukai perasaannya.

“OKE. Sekarang mau gimana? Aku ngomong pelan-pelan sama kamu sya. dahulu aku membiarkanmu mengikuti kata hatimu. Tetapi setelah aku melihatnya lagi. Mengapa kau menjadi tak karu-karuan seperti ini? Aku membiarkanmu merokok sekenamu. Aku mencoba mengertimu sya. Aku tak mau kau terluka gara-gara cowo banci kaya dia! Aku tak mau kau diperlakukan tak jelas olehnya! Aku hanya ingin kau bahagia. Entah dengan sapa tak masalah. Asalkan kau tidak seperti ini. Bukankah 3 tahun sudah cukup sya? Mau sampai kapan kau menangis seperti ini?!!!” Kanguru menepuk-nepuk pundakku dan sangat terlihat sekali ia sedang menata kembali ucapannya.

“ Kang,,,”

“”APA?”

“maaf membuatmu marah seperti ini. Aku tak bermaksud. Aku hanya ingin meluapkannya saja. Maaf aku egois. Aku,,,,,”

“APA KAU MEMANG SELALU MEMINTA MAAF? APA MEMANG KAU ORANG YANG SELALU MERASA SALAH? JANGAN BEGITU SYA! Kau tak salah, tak perlu minta maaf. Apa kau begini juga padanya? Memang kau bodoh sya. Sangat bodoh! Mana kamu yang dulu? Mana semangat kamu? Mana kenekatan kamu? Mana kekuatan kamu? Cuma gara-gara dia kamu jadi gini? Sya,, tolonglah, buka hatimu. Jangan kau sakiti dirimu sendiri.” Kali ini ia tak menepuk pundakku, ia sudah mulai merangkulku dan mendekatkanku padanya. Aku hanya diam, tak ingin menanggapinya.

“hahahahha. Bodoh. Harusnya, saat aku menembakmu setengah tahun lalu. aku harusnya memaksamu menerimaku. Setidaknya kau tak merasa sendirian seperti ini. Atau kalau perlu, saat kau menolakku dulu. Kau harusnya membuat janji padaku agar kau cepat membuka hatimu. Ah kau ini. Memang sangat bodoh sya.” Kangguru mengusap sekaligus mengobrak-abrik rambutku.

“haha, suruh sapa saat itu kau tak memintaku seperti itu mas? Mas malah bilang waktu itu padaku supaya aku belajar saja. Hahaaha. Maksudnya belajar mencintaimu apa mas? Haha. Tapi,,, “ aku mengusap air mataku, dan  aku sebenarnya bingung harus berkata apa padanya. Hatinya terlalu baik untuk aku sakiti. Maaf kang. Aku hanya bisa mengulang kalimat ini dalam hati.

“wkwkwkk, itu tahu. Tapi kayanya kamu gak pernah belajar. Yang ada kamu malah semakin galau dan tak jelas gini. Aku jadi gak suka.”

“hahaha,, syukurlah akhirnya kamu sadar Kang.”

“hahhaha,, memang. Aku masih menyukaimu. Akupun belum bisa move on darimu. Tapi aku masih bisa memakai logika berpikirku. Tidak sepertimu. Isinya hanya tak jelas. Galau, rokok, hujan-hujanan. Ckck. Berubahlah sya. Setidaknya, turutilah aku, yang selalu kau anggap aku hanya sebagai Masmu ini.”

“hahaha. mas? Maaf.”

“maaf terus! Lebarannya besok tahu!” ia mempolesku.

“haha. Sorry Kang. Sori. Hm, kamu harus cari yang lain. Tapi setelah itu kenalin ke aku. Oke?”

“gak sopan nyuruh-nyuruh. Emangnya kamu sendiri gimana? Ngaca donk. Bahahah. Gak. Aku mau tunggu kamu aja... emm, tunggu kamu bisa move on. Setelah itu aku bakal bisa juga.”

“hih, emang bisa? Haha. Aku? Gak tahulah kang. Aku udah males mikirin.”

“males mikirin, tapi buat catetan terus. Ya sama aja. Yang pasti aku gak mau kamu kaya gini. Apa perlu aku yang buka hatimu? Nanti aku taruh namaku di dalamnya.”

“hahaha. emoh ah. Hahaha”

“iya lah. Aku udah tahu jawabnnya. Dan ini jawabanmu ke 23. Ckckck. Kayanya aku melebihi jonesmu sya. Aku sebenarnya pengin ketemu sama Ular. Aku pengin marahin dia. Kenapa cewe baik kaya gini bisa dibiarin aja. Ckckckck. Bangxxx banget!”

“weitsz. kang??? Hahahaha. Udah sana pulang, nanti kemaleman sampai rumah. Terimakasih atas marah-marahnya, dan terimakasih atas semuanya.”

“bentar lagi lah. Takut kangen sama kamu koh. Emmm. Gimana kalau kamu ikut aja? Nanti aku kenalin sama balon mertua?”

“balon?”

“bakal calon mertua marsya oon! Ya kali aja kamu mau buka hatimu buat aku sya.”

“haha. Ngarep! Kamu itu kakakku mas. Jangan gitulah,,,,”
“hahhahaha. Yaudah cepet buka hati. Buka pikiran juga. Dia itu cowo banci! Jelas-jelas suka sama kamu. Tapi gak ada geraknya. Ckck. Baik sama kamu sih gak papa. Tapi nyatanya dia yang suka buat kamu nangis! Kamunya juga bodoh! Suka ma orang kaya gitu. Dah gitu, aku yakin, cuma dia yang berhasil bikin kamu gak ngasap. Ckck. Udah habis berapa hari ini coba?  Loro-lorone nggelani temen. Gelut bae yuh!”

“haha. Asem ya Kang. Sok tahu kamu lah. Haha, udah sana pergi sanah lah. Mbok dikampung nemu awewe kan lumayan. Oh ya, Selamat lebaran yaaa,,,”

“ngusir koh!ckck. yaudah aku pulang dulu yaa. baik-baik dirumah. Jangan banyak asap! Jangan sampai ketahuan juga. Cepet sembuh kamu lah! Buka hatimu! Pakai pikiranmu! Cinta ya cinta, tapi jangan buta gitu! Ngerti kamu sya?”

“hmm.”

“coba lihat mas.”

“iya mas. Aku coba. Tapi pelan-pelan ya. makasih mas. “

“yaa gitu donk. Jangan ngomong doank!” ia membenarkan poniku. “Aku sayang kamu adeku.”

“hahaha. ade loh yaaa. Ga lebih? Haha. Aku juga sayang kamu mas.”

Setelah itu, kang pergi. Aku hanya senang sekaligus sedih. Yaa,, dia yang menyukaiku, tetapi aku tak menyukainya. Aku tak enak hati jika bercerita tentang Ular. Karena itu setelah ia menembakku, dan aku menolaknya. Haha. Memang bodoh saat itu aku. Saat itu aku hanya berfikir cowo sebaik dia tak patut denganku. Aku lebih sering menulis dan tak bercerita pada siapapun. Setidaknya dalam tulisan, aku hanya ingin mengungkapkan saja apa yang aku rasa. Selanjutnya, jika ada yang membaca, ya sudah. Aku pun  tak tahu ada atau tidak yang membaca tulisan ini. Aku hanya mulai tahu. Ternyata selama ini Kangguru membacanya. Haha. Apa mungkin ia akan membaca tulisan ini? Hahahaha. 
Peace mas. Hehehhe. Jangan marah lagi yaa. move on kang! wkwk

Aku memang belum tau apa yang akan aku perbuat. Yang pasti lagi-lagi aku hanya membiarkan semuanya mengalir, selagi baik menurutku, ya aku akan tetap membiarkanya. Karena ketika aku berusaha melupakannya, itu takkan berhasil. Saat aku mencoba dengan yang lain, haha. Tidaklah.aku tidak sejahat itu, dan itu  bukan gayaku. Haha. Dan ini, mungkin tulisan sore, malam minggu yang terakhir. Lagi-lagi entah mengapa aku tak sanggup melanjutkannya. Karena terkadang aku merasa ekspresi tulisanku ini kurang tepat. 

Karena, haha. Apa iya semuanya akan aku ceritakan lewat tulisan? Apa ia aku akan mengekspresikan semua yang aku alami? Haha. Aku memang tak  bisa terlepas dari menulis. Aku, hanya perlu mematikan feeling dan menghilangkan mood menulisku. Aku? Haha. Sudahlah. Aku hanya berharap, ada yang memarahiku lebih kencang, lebih keras, dan lebih tajam. Sehingga aku sadar semua yang kulukakan, apapun yang jelek-jelek itu, bisa terlepas dari kehidupanku. apapun namanya itu, aku tak seharusnya seperti ini, aku menyadari aku salah, tetapi apa boleh buat?