Selasa, 26 Agustus 2014

ata dan sataly

Kala itu,
kabut mulai menyapa  dengan hangat, malam mulai menampakan rona hitam pekatnya, adzan mulai berkumandang, ayam jago mulai berkokok bersaut-sautan dan pemuda itu, sibuk menarik tubuhnya dalam-dalam menyesuaikan selimut bermotif kotak-kotak birunya. Tak berselang lama, rona hitam pekat di langit berubah menjadi terang benderang. Kicauan burung pipit mulai terdengar merdu di telinga yang mendengarkan.  Sang Mentari mulai muncul memancarkan senyum terjailnya membuat hampir sebagian orang yang memulai aktifitasnya sesekali memicingkan matanya.


Alarm putih berbentuk burung pipit bertengger di pohon itu mulai berkicau,menunjukan waktu pukul 06.00. kicauan itu tidak sebagus kicauan aslinya, tetapi cukup untuk membuat kejutan hebat di gendang telinganya yang memaksakan ia untuk bersegera bangun membunuh suara memekikkan itu. Batin ia bersumpah serapah , brisik sekali!aku baru bisa tertidur jam  4 pagi, dengan pekerjaan yang masih aku tinggalkan. Apa kau tahu,aku sangat cape?!” sembari memasukan alarm itu ke laci lemari kecilnya.


Tepat pukul 07.00, alarm itu berbunyi lagi. kali ini ia datang dengan suara yang terdengar manusiawi. Membuat Sang Pemilik yang sedikit terbangun tersenyum geli. Namun, seketika itu juga ia melanjutkan tidurnya.


Selang beberapa waktu,ponselnya berdering..seketika ia terpelanjat bangun karena posisi ponsel tepat berada ditelinganya. Ia berdecak pelan, batinnya berkata “sompret,karma alarm.” ia lalu meraih ponselnya  “JAMBRONG KUNYUK “ nama yang tertera di layar ponsel. “brisik sekali kau ini!ada apa hah?tak bisa melihat sahabatmu ini beristirahat sebentar?” . Terdengar suara dari kejahuan menyeletuk,”arghhh,,kau ini, Ta. Aku bukan orang seperti itu. aku cuma mau mengatakan sesuatu. kau pasti senang jika mendengarnya.” Ia mengeraskan volume suaranya “APAAN TUH??? Jangan bilang, aku ditunggu oleh bos Gemblung itu. kau suka sekali mengada-ada! Ogah ah,.”


“Cewe itu,ia ada di taman!”.
“MASAA???ini baru jam 7 pagi kan? biasanya ia baru datang jam 9. hm,,kamu salah lihat pasti mbrong!”
“kaga lah,,, cewe kaya dia cuma satu keles. Cepet lu mau kekantor jam berapa? Keburu dia pergi!”
“secepat kilat pesti mbrong. Tapi,bukan dia lah.kamu sudah tahu,aku mengintainya sudah setengah tahun ini. Dan ia melewati, atau hanya sekadar duduk di taman sekitar pukul 9 mbrong.”
“ah, banyak bacot lu Ta! Tesera,, Gua mau deketin tu cewe. Gua mau kenalan. Ntar kalau gua kenal dia, gua kenalin ke lu,hehehe. Gimana?”
“wah,,sialan lu mbrong. Lu kenalan sama cewe?kaga percaya gua. Sekarang Lu beliin gua vanila latte sama amunisi aja. Yang entengan aja mbrong, entar aku ganti. Jangan sentuh tuh cewe. Pantengin aja sampai aku datang.”
“hits, tapi seminggu ini,pekerjaan kamu yang tangani. Aku bantu-bantu dikit  aje lah, oke?deal yaa”
“hm. Jaga tu cewe!!!” bip. Suara dari sebrang sana mati,Jambrong yang sebenarnya bernama Sandi itu melihat ponselnya sambil berkata “sadis lu Ta. Sapa-sapamu juga bukan,udah suruh gua jagain. Gua seharusnya jagain dia biar jangan sampai kenal lu. Itu yang bener!!!”

 ***
Ia langsung bergegas sambil bergumam “Ya,,ini cewe itu. cewe yang selama ini ku perhatikan diam-diam.sudah setengah tahun,aku belum berani mengatakan sepatah katapun. Berdiri di hadapannya juga aku tak punya muka. Hm,,mungkin ini saatnya. Saatnyaaa".


Ia benar-benar tergesa-gesa. Di benaknya hanya ingin bertemu dengan cewe itu. cewe yang beberapa minggu lalu ia ketahui namanya. Tak cukup lama ia berdandan di depan kaca. Dan setelah itu,ia keluar mmengambil motornya dan sesaat kemudian ia memasukan kunci dan gerombolan asap mengepul keluar dari knalpotnya disertai suara yang memekikkan telinga. Tanpa ada pemanasan, motor itu melaju kencang, seperti kencangnya detak jantung Sang Pemilik.


Dari tadi,hanya kedua tangan dan kakinya yang bekerja keras menaklukan jalanan yang tak pernah sepi.dan tak memakan waktu yang lama,ia sudah berada di taman itu. taman di belakang kantor ia bekerja. Taman yang setiap hari menjadi temannya untuk mengintainya,menunggu cewe itu datang hingga melihat cewe itu lepas dari penglihatannya.

Ia melihat Jambrong, ia tersenyum tipis, “kau ini mau mengintai apa mau memangsa!”
Jambrong membalikan badan “hey Ta. Kau sudah datang.hm,, cepat sekali.benar-benar kau ini Ranjem! ckck”
“weitz,,,kamu kok ngomongi diri lu sendiri.haha”
“ini pesenan lu.” (sambil memberikan segelas vanila latte dan sebungkus U-mild). “Gua mau datangi bos bawel dulu. Lu baik-baik ma cewe itu.jangan diapa-apain, ntar nyaknya dateng ke kantor urusannya berabe loh!”
“ndasmu kui,,ckck.thank”
 ***

Ia melihatnya,,, benar. Itu dia. Memang dia. Cewe yang ia suka dan kagumi. Cewe yang entah mengapa namanya mengandung nama ia. Ia meminum vanila latte,untuk mencoba menenangkan suasana hati yang berdebar kencang.Namun,hanya seteguk.Karena ia menyadari cewe yang di intainya bergegas pergi. Cewe itu terlihat buru-buru hingga cewe itu tak menyadari dompet putih bermotif bunga terjatuh.

Saat itu juga. Ia berlari mengambil dompet itu dan memanggil “mbaaa,,, mbaaa,, mba Mar. . . .” ia berhenti. Dan mengoceh sendiri,” Aduh,,mengapa aku memanggil namanya,nanti bisa beda cerita kalau dia tau aku mengetahui namanya".

Sesaat kemudian ia sontak kaget dan melempar dompetnya, “hmmm,,mba..saya bukan pencuri apa lagi pencopet.”  (Ya saat itu,,cewe itu tepat berada di depannya, di hadapannya.)
Cewe itu berkata” iya saya tahu. Mas tadi yang memanggil saya kan,itu dompet memang dompet saya. (sambil mengambil dompetnya yang terjatuh dilantai dan pada saat yang bersamaan ia juga mengambil dompet itu,untuk diberikan cewe itu).
Dan adegan seperti di sinerton atau film-film,memang bisa terjadi. Kedua tangan itu bersentuhan hanya karena mengambil dompet yang terjatuh.

“ini mba dompetnya,,coba di cek dulu takut ada yang hilang” (dengan raut wajah yang sangat merah)
“tidak ada yang hilang kok mas. Terima kasih mas,kalau gak ada mas,mungkin dompet ini bisa hilang.”

“iya sama-sama mba. hm,,,saya Ata. Ata Rishyan. Mba?”
“hm,,saya Marsya Sataly. Panggil saja Marsya”.

Dan tak terelakkan lagi hari penantian Ata akhirnya datang juga.
Dan kini,,dua telapak tangan itu menyatu dan tak ingin di lepaskan. Yang pasti itu perasaan Ata yang berbicara.

Ia hanya berkata dalam hatinya, ”ini baru awal. Awal penantianku yang dahulu tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Dengan pengintaianku selama ini,dengan segenap caraku untuk mencari tahu seluk beluk dirinya dan pada akhirnya ku bertemu ia saat ini. Akan ku buktikan pada diriku sendiri, bahwa aku tak salah menilainya. Oh,,,Marsya Sataly. Aku menyukaimu lebih dari siapapun.”

Rabu, 13 Agustus 2014

ia bernama,,,

Ia adalah seorang gadis muda,usianya belum terlalu matang.
ya,kurang lebih sekitar satu kodi.
parasnya mungkin tidak begitu cantik.
namun,kecantikan hatinya cukup menarik perhatian.

Saat tersenyum,ia terlihat manis.
mungkin karena ia senang menyapa.
Saat terdiam,ia terlihat garang.
mungkin karena ia senang merenung.
Saat tertawa,ia terlihat sangat bahagia.
mungkin,karena ia sedang melepas beban di pundaknya.

ya,,ia gadis yang aku kenal beberapa tahun silam.
gadis yang mulai merintis,merangkak naik mencapai tujuan hidunya.
seperti ulat yang akan berubah menjadi kupu-kupu.
gadis yang akan membawa kebahagiaan dan kebermaknaan bagi seluruh makhluk.
kapanpun dan dimanapun.

ia gadis yang enerjik,humoris dan terkadang impulsif.
gadis yang serbabisa,apa adanya dan supel.
gadis pembuat onar,tukang jail, dan biang kerok.
namun walau begitu,ia orang yang sangat perhatian, hingga terkadang orang yang menerimanya salah mengartikan.
ya begitulah ia,,
enjoy disetiap apapun, karena ia melakukannya dilandasi dengan tulus.

ia sangat senang bercerita,berbagi pengalaman,pengetahuan, dan suka berbagi.
semangatnya selalu ada dan bersifat abadi.
walau demikian,sesekali ia menyerah. hanya sejenak.
karena hal itu menjadi tumpuan untuk melejit lebih jauh keatas.seperti bola tenis katanya.

ia menginspirasi beberapa orang.
karena semangatnya yang selalu berkobar,tentang perumpamaan yang selalu ia buat, dan tentang kepeduliaannya kepada orang lain.

ia merasa hidup seribu tahun lamanya saat menjalankan rutinitasnya,namun saat ia mengingat-Nya ia merasa hidupnya tidak sampai hitungan ketiga.

ia senang akuntansi,senang sastra,berdagang, senang musik dan terlebih olahraga.
ia paling senang saat hujan turun dan saat angin bertiup kencang. ia juga sangat suka air.

ia suka berkorban,ulet dan gigih.
ia sangat blak-blakan dan spontan dalam bertindak.
saat bercerita tentang cinta,
ia adalah gadis yang setia,romantis, dan pengertian.

gadis yang memiliki bermilyar cita-cita dan memiliki cita-cita selangit.
sang pemimpi yang ulung sehingga satu per satu mimpi itu menjadi kenyataan.
pengamat yang tajam dan awas membuat ia terkesan memiliki ilmu.
tidak,ia tidak mempunyainya.hanya saja,,,
ia ingin menjadikan dirinya seorang insan yang berguna untuk orang lain,tidak sekadar cuap-cuap.
ia menginginkan semua bahagia,
tidak sok menjadi pahlawan,
namun ia berusaha untuk memberi secerca harapan,kebahagiaan dan kebermaknaan hidup.
karena itu, ia hidup.
karena itu pula ia bahagia tercipta di dunia fana ini,
dan ia takkan menyia-nyiakan Sang Pencipta menciptakan ia.

yaaa,,
itulah gadis yang aku kenal sekaligus aku kagumi.
gadis itu bernama "Marsya Sataly"

Minggu, 10 Agustus 2014

entahlah


Tidak tau mau memulai dari mana.
Tidak tau juga berawal dari mana.
Bisa jadi semua baru dimulai, atau mungkin ini akan berakhir.

Ya,
Ia tak paham.
Ia tak mengerti.
Ia tak tahu,
Ini sulit untuk dimengerti batinnya,
decakan di mulutnya mengakhiri ketidaktahuannya.

Lagi,lagi dan lagi.
Decakan itu timbul,
akibat pikirannya yang berkeliaran,
mencoba untuk mengerti.
Tapi sedetik kemudian ia pasrah.
Ia tidak mengerti sesuatu itu bisa terjadi.

Lalu ia mencoba memikirkannya kembali,,,
Mencoba mengerti apa yg terjadi,
Mencoba memahaminya,
Mencoba menerima dgn sisa kesadaran yg ia miliki.
Ia mulai bertanya-tanya dalam hati,
Apa yg harus kulakukan?
Apa ak hrs menerimanya?
Apa aku harus memaksakan untk menerimanya?
Apa aku pura2 saja menerima?
Apa aku mau ttp tinggal diam?
Apa aku kudu menerima sesuatu yang akunya saja blm tahu.
lantas,bagaimana aku menerimanya?
Apakah biarkan saja sesuatu itu, menjadi rahasia alam?
menjadi rahasia yang sampai kapanpun tak akan terkuak?
entahlah. . .
ia mengakhiri dialog panjang batinnya dengan kepasrahan.

selang beberapa menit,
Ia mencoba bernafas,dengan tarikan panjang yang tak ingin ia lepas.
namun,tarikan itu tak mengubah apapun,
sesuatu itu tetap tak dapat hilang dalam benaknya.
"aish" ia bergeming.
pikiran ia berkecamuk,pikirannya tak berkesudahan.

tes,
satu manik air jatuh,,
manik yang ia selalu simpan itu,
perlahan tapi pasti berjatuhan.
seperti tetesan air kala rintik hujan turun,
mewakili apa yang sdang ia rasakan.
karena itu pula ia mampu bertahan untuk tidak mengeluarkan air mata indahnya.
memang,air mata yang turun itu indah,
menyejukan,
mendamaikaan,
menenangkan.
hingga ia dapat melupakan sejenak apa yang ia rasakan.
jari jemarinya mengetuk-ngetuk lantai,
ia mencoba menilik kedalam relung hatinya,
dan saat itu,
tiba-tiba terbesit kata-kata indah yang berasal dari sahabatnya.
"meskipun tak ada bahu untuk bersandar, tetap akan ada lantai untukmu bersujud".


Jumat, 25 Juli 2014

malam. malam,,,



“Malam lagi, malam lagi, malam lagi” ia bergumam.
Malam ini, bebeda dengan malam-malam sebelumnya,
Pakaian yang ia kenakan tidak selusuh kemarin.
Namun,
apabila sepasang mata lain yang biasa melihatnya,
ia tetap sama seperti biasanya.
Raut wajahnya redup,,,
mendung,,
suram.

Saat ini, ia berada ditempat itu,
Tempat dimana ia selalu mengurai apapun yang dirasakannya.
Berbeda dengan sebelumnya,

Kali ini,,
Ia membawa kotakan persegi panjang kecil, berwarna hitam yang berisi sesuatu yang berjejer rapi memenuhi kotak itu.
Ditemani, dengan sebuah kotak yang lebih kecil berwarna putih yang sudah ia miliki beberapa minggu lalu.
Batinnya berbicara “Mungkin sudah saatnya aku kembali”. (sembari melihat kotakan hitam disampingnya itu).

Pedih,sakit dan seketika ia sulit untuk bernafas.
Pikirannya kini dipenuhi memori kelam masa lalunya.
Tanpa sepengetahuan alam bawah sadarnya,
Jari jemarinya sudah meraih dan meraba kotakan itu.
Seketika ia mengenggam dan mulai membuka kotakan hitam itu.
Ibu jari dan jari telunjuknya berusaha untuk mengambil satu buah batang yang ada didalamnya.
Ia lalu mencium ujung batang itu dan tidak sampai hitungan ketiga secerca cahaya ia hadirkan.

Dengan perlahan, ia menghisap udara ke dalam,
lalu seketika ia mengeluarkan udara itu kembali bersama kepulan kecil kabut hitam tak beraturan.
Saat itu pula ia merasakan senyum tipis di bibirnya.
Lagi,dan lagi ia mengulangi hal yang sama,
Hingga kedua bola matanya melihat kepulan asap kecil terbang tanpa arah melintas diatas kepalanya,
melewati jendela yang terbuka lebar,
mengikuti kepergian kabut hitam kecil yang seakan-akan telah ditelan dinginnya malam.
Seketika itu,ia melihat hamparan langit yang menenangkan, dengan dihiasi beribu Bintang serta hangatnya Sang Rembulan.

Sontak ia kaget. Tubuhnya sudah sedikit bangun untuk berdiri tegak,
Namun, ia tak kuasa. Tubuhnya tak bersahabat dengan dirinya.

Ia mulai terjatuh lunglai,
tergolek lemah tak berdaya dipapah oleh dinding bisu yang usang.
Ia menunduk, mencoba berusaha menelan sisa air ludah yang menggenangi rongga mulutnya.
Pahit batinnya.
Dan tak bisa terelakan lagi,
butir demi butir yang tidak pernah ia harapkan kehadirannya.
Saat ini terjun bebas tanpa izin pemiliknya.
Ya,,,
Ia menyerah,,,
disusul rongrongan halus yang keluar dari mulutnya,
Belum genap detik ke tujuh saat rongrongan itu,
Sudah disertai raungan keras menyakitkan,
yang menghancurkan kesunyian malam, membuyarkan suara jangkring, memecahkan keheningan.
Perasaannya tumpah ruah bagaikan ember besar yang dinanti para pengunjung Owabong.
Ia menangis lepas, selepas tiupan angin malam yang menusuk kulit.
Selepas pederitaan yang ia derita,selepas hinaan ya ia dapat, selepas apapun yang menyesakkan nafasnya.

Rintik hujan lagi lagi datang.
Sejuk, damai, menghangatkan.
Hanya beberapa menit rintik hujan membasahi jalanan yang mulai sepi.
Hanya beberapa menit pula, ia merasakan kesetiaan kawan yang selalu menemani kesendiriannya.
Angin tiba-tiba berhembus kencang,
Terdengar samar,angin membisikan telinganya “tenanglah,semua pasti akan baik baik saja”.


Ia tersenyum lebar.
Ia lalu menyeka butiran air yang masih menggantung di bulu matanya.
Ia lalu menenggelamkan dua kotakan yang dibawanya tadi kedalam sakunya,
Ia mencoba berdiri dengan sisa tenaga yang ia miliki,
Ia lalu menyempatkan diri, sebentar.

Menengadah ke atas langit,
Dan hati kecilnya berbicara

“Aku akan memegang teguh perkataan yang sudah aku lontarkan, beberapa tahun silam. Aku akan tetap ingin menjadi Sang Rembulan yang selalu menghangatkan dan menentramkan hati semua orang. Dan akan Ku pastikan, aku akan tetap beusaha menjadi Bintang yang akan selalu menyulutkan secerca cahaya yang bernama harapan kepada semua insan. Terimakasih malam, lagi-lagi kau mengingatkanku akan sebuah arti hidup”.



Rabu, 23 Juli 2014

malam,

saat ini ia tergolek lesu,
ia tak berbicara sepatah katapun,
ia diam seribu bahasa,
isak tangis tak keluar,
melainkan hanya ada goncangan dahsyat di tubuhnya.
yang hanya bisa ia lakukan adalah membenamkan wajahmya, kesela-sela lekukan tubuh yang dibuatnya.
ia tertegun,
sesekali menelan ludahnya,
sesekali keluar desiran angin dr lobang hidungnya,
sesekali muncul gertakan hebat tak terelakan dari barisan giginya,yang menambah riuh gejolak hatinya.
jari jemarinya mulai menghentakan permukaan bumi,dg hentakan rendah tak menimbulkan kesudahan.
kini,manik hitam di kelopak matanya,mulai bermain.
bermain dgn perasaan yg menghantuinya.
dan lagi lagi,
rintik hujan,angin yg brhembus kencang,dan kesunyian malam yang setia menemaninya.
dan tak jemu jemu mereka,mereka seakan berkata "tidak apa-apa,semua akan baik baik saja".

Jumat, 11 Juli 2014

bocah plontos dan seorang gadis



Kepala plontos bocah itu terlihat dari kejahuan. Bocah dengan postur tubuh besar dan kekar sedang memcoba memainkan layangan yang ia temui di tong
sampah. Ketika seorang gadis mendekatinya ia memandangnya sesaat, ia menyapa “mba lisa“ sembari melebarkan senyumnya dan hampir saja terlihat
seluruh giginya. Berapa detik kemudian ia kembali mencoba membuat layangan itu mengudara. Membuat gadis itu, membendung niatnya untuk membalas sapaannya. Ia hanya tersenyum tipis melihat tingkah polos bocah itu yang mencoba mengudarai layangan yang sudah sedikit robek. Batinnya berbicara,tidak mungkin bisa layangan itu terbang.


Sesaat kemudian, bocah itu duduk beristirahat, dari raut wajahnya terlihat sekali ia memikirkan bagaimana caranya agar layangan itu bisa mengudara.
wajah polosnya itu, membuat gadis yang duduk disebrang jalan menjadi tersenyum geli. namun, sedetik kemudian bocah itu merubah raut wajahnya. Ia lalu menenggelamkan wajahnya kedalam dekap tangannya. Gadis itu, melihat jelas apa yang sedang dilakukan bocah 8 tahun itu. Ia memperhatikan setiap gerakan yang bocah itu ciptakan. Ia bergumam, Ada apa dengan bocah ini? apa ada yang salah?


Gadis ini, perlahan mencoba mendekati bocah itu, ia mengelus kepalanya, berbicara dengan hati-hati “kenapa?”. Tidak sampai hitungan ketiga bocah itu
menengadah wajahnya menghadap ke gadis itu, sambil nyengir ia berkata “oo ora aaanna apapa”. Lalu ia ngluyur pergi memanggil temannya dan seperti biasa ia mulai membuat teman-temannya tersenyum bahagia. Walau entah mereka melihat tingkahnya yang polos atau menertawakan kekurangannya.


Gadis itu lalu menghelai napas, bocah yang dewasa. Ada apa dengannya? padahal terlihat jelas dalam kedua kelopak bocah itu,hitam legam, memancarkan kesenduan. Ia mencoba berbicara dengan sorot matanya, bahwa ia merintih kesakitan, meronta-ronta perih, dan menahan kepedihan. Bocah itu, seakan-akan mencoba berbicara dengan suara yang hampir tidak bernada “lihatlah aku, temani aku”.

Gadis itu melihat bocah itu kini sendiri lagi, bocah itu duduk dengan menatap langit. Setelah itu, ia melihat orang-orang yang ada disekitar, dan tiba-tiba ia bergumam sendiri.
Sontak gadis itu kaget, mengapa bocah itu bicara sendiri? Akankah ia merasa sendirian di tengah riuhnya orang-orang disekitar? Apakah disaat sepi, ia merasakan keramaian? Entahlah gumam gadis itu, buntu dengan pikiran yang dibuatnya sendiri.

. . . . . . . . . . . .

Selasa, 27 Mei 2014

Rindu

ketika kabut mulai berkeliaran,
ketika perlahan embun hadir disela dedaunan,
ketika embun mulai berproduksi dan setiap tetesan adalah harapan

ketika Sang Mentari memancarkan sinarnya
ketika iring-iringan awan mulai tampak dihamparan langit
ketika Sang Surya berada tepat di atas kepala
ketika awan mendung mengeluarkan ke-egoannya dengan mengusir awan cerah

ketika guntur bersaut-sautan
ketika kilatan petir saling menyambar mengeluarkan kekuatannya
ketika satu butir hujan turun mengikuti gaya gravitasi,
diikuti berjuta-juta butir selanjutnya,
membuat sebuah alunan lagu yang merdu tak beraturan,
membuat genting di atap mengeluarkan kewibawaannya,
membasahi apapun yang dilalui tanpa pandang bulu,
membuat segerombolan ikan bersorak gembira,
membuat segerombolan semut berteduh,
membuat hangatnya kebersamaan induk merpati saat pulang membawa makanan untuk anaknya
membuat pohon kelapa menari riang
membuat rama dan sinta saling menghangatkan
membuat para pengendara berhenti untuk memakai busana jas hujannya
membuat beberapa orang memacu adrenalin melawan hunjaman air yang menusuk
membuat seseorang tertidur pulas,
Dan,,
membuat seorang gadis memandang jalanan yang luas di balik jendela kamarnya.
Terdiam,termenung, dalam lantunan air hujan,
Setiap percikan  air hujan yang dilihatnya,
Merangkai sebuah percikan - percikan kecil yang telah terjadi dalam kehidupannya.
Hingga sampai pada kenangan itu.
Kenangan yang telah dan selalu ia pendam dalam-dalam,
letaknya sangat dalam dan jauh kedasar relung hatinya. 

Hujanpun kini mulai berdendang dengan angin,,
Seakan-akan mereka sedang menertawakan gadis itu, yang kesepian dengan kesendiriannya.

sesekali gadis itu tertawa,
terkadang terlihat senyum tipis dibibirnya,
sesekali ia menggerutu,
sesekali pula ia mengernyit,
sesekali matanya berkaca-kaca,,
sesekali pula ia membiarkan air matanya berjatuhan,
namun setelah itu ia kembali tersenyum.

gadis itu tidak gila. Tidak pula sedang bersandiwara,.
gadis itu hanya tertegun lesu,
lesu melihat kenangan yang sudah terjadi,
ia bagaikan sedang menonton film, menonton film kehidupannya.
dengan sesekali mempausenya,sesekali menplaybacknya, sesekali menclosenya,

hahaha,,
gadis ini seperti pohon cemara yang merindukan hujan saat musim kemarau,
gadis ini mirip anak burung yang selalu setia menunggu sang induk
gadis ini seperti kumbang yang merindukan bunga bermekar saat bunga itu masih menguncup,
gadis ini seperti bola yang selalu berusaha sekuat tenaga untuk bisa mendekati gawang
gadis ini seperti para pendaki yang setia menanti datangnya Sang Fajar untuk menikmati sunrise di puncak gunung
gadis ini seperti gameonline, yang rindu gammer untuk memainkannya kembali,
gadis ini seperti seorang muslim yang selalu menanti datangnya bulan romadhon.
Hahaha,,

YA, GADIS ITU MERINDUKANNYA!!!


merindukan seseorang yang mencuri hatinya,
merindukan seseorang yang telah memikat hatinya,
merindukan seseorang yang nyata tetapi terasa tak nampak.
seseorang yang jauh namun terasa dekat,,
seseorang yang dekat,, tetapi terasa jauh,,


hahaha,,
gadis ini merasa bodoh
untuk menyukainya,mengatakannya,mengutarakannya.

walau begitu,
gadis ini tidak peduli,,
ia tidak peduli apakah seorang itu tahu ia menyukainya,
ia juga tidak begitu tertarik untuk mengetahuinya.

Ia tidak juga peduli,
seberapa lama rasa rindu ini menghampirinya,,
seberapa besar rasa rindu itu hadir,,
seberapa kuat rasa rindu itu menancap dalam relung hatinya,
dan sampai kapankah rasa rindu ini muncul???
Akankah tergantikan???

Persetan dengan itu semua (ujarnya).
Asalkan kau bahagia dan baik-baik saja itu sudah cukup untuk mengobati rasa rinduku,,
(imbuh suara hati gadis itu).

Sudah hampir satu jam hujan menguyuri dan sudah satu jam pula ia diguyuri perasaan itu,
Gadis itu memutuskan untuk mengikuti apa yang pernah sahabatnya itu lakukan.
Ia lalu membuka laptop kesayangannya,lalu membuat sebuah note.
 Dengan perlahan jari jemarinya mengetik. . .

“ ketika kabut mulai berkeliaran,
  ketika perlahan embun hadir disela dedaunan,
  ketika embun mulai berproduksi dan setiap tetesan adalah harapan .  .  .  .  .”