Senin, 09 Februari 2015

''


Siapakah saya?
entahlah.

terkadang seseorang menjadi manusia seutuhnya.
terkadang ia menjadi buas tak terkendali seperti binatang,
dan hanya sesekali ia menjadi sangat baik seperti malaikat.
entahlah.

ku berjalan ke kanan, lalu kembali ke kiri.
ku berlari ke kiri, kembali ke kanan.
ku menaiki tangga ke atas,
ku menuruni tangga ke bawah.
entahlah.

aku mendatangi kamu, dengan menghadap ke depan,
aku meninggalkanmu dengan membelakangimu.
aku akan pergi,
aku akan datang.
aku mulai membaca buku,
namun buku itu berawal dari menulis.
entahlah.

terkadang hujan datang, terkadang panas terik.
terkadang kamu datang, terkadang kamu pergi.
terkadang rindu kamu, terkadang benci kamu.
entahlah.

ada Langit Senja, ada Langit Fajar.
ada Iya, dan ada tidak.
ada matahari ada bulan.
ada air ada api.
ada kebahagiaan, ada kesengsaraan.
ada kelahiran dan kematian.
ada ini, ada itu. entahlah.

ku mencoba, menyelusuri setiap sudut ruang di hatiku.
tak ada jawaban disana. 
lantas ku mencoba melihat lebih dalam ke relung hatiku.
ku menemukan sesuatu.

semua memang begitu kontradiktif.
semua itu begitu bersebrangan,
saling berlawanan,
tak pernah bisa menyatu.
namun ingatlah.
mereka selalu beriringan dan saling melengkapi.

begitulah hidup. tak perlu berkecil hati, tak perlu berbesar hati.
jika kau dibawah bersiaplah keatas.
jika kau berada diatas, bersiaplah turun kebawah.
saat kau sedih, jangan terlalu kawaitr, karena bahagia kan segera datang.
saat kau senang, jangan terlalu larut, karena kegembiraan itu mungkin dapat membawamu sedih.

saat kau menangis, menangislah. jika setelah itu kau yakin akan ada senyum yang merekah dibibir.
ketika kau bahagia, tersenyumlah, hingga tiba-tiba air matamu menangis saking bahagianya.

ah, entahlah.
lagi-lagi ku terkagum-kagum dengan Sang Pencipta.
bukankah rahasia Tuhan sungguh luar biasa?
ada begitu banyak rahasia-Nya.
ada rahasia yang terkuak,
namun ada pula rahasia-Nya tak bisa terkuak,
dan biarkan saja rahasa itu menjadi rahasia-Nya.

ah, benar-benar. Tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
yang pasti Subhanallah.
"Maha Suci Alloh, Tuhan Seluruh Alam"


Gn.Merbabu 2690 MDPL,

~MARSYA SATALY~

Minggu, 11 Januari 2015

Langit Senja


Langit senja. Begitulah keadaan bumi saat ini. Indah menawan, mempesona, dengan paduan warna jingga, putih, biru tak beraturan, membuat Sang Mentari yang dari tadi menyinari sebagian permukaan bumi, begitu enggan beranjak tuk pergi. Ah, sungguh indah. benar-benar indah. namun sayang, mengapa banyak orang yang menghiraukannya? mungkin karena hampir setiap hari mereka mengamatinya. Atau mungkin manusia jaman sekarang terlalu sibuk dengan urusannya. Entahlah. Yang pasti, setiap hari, langit senja selalu memberikan harapan pada setiap orang. Termasuk gadis itu. Ya gadis itu. gadis yang memang bukan gadis. Haha, Anggap saja demikian. Karena lagaknya ia tak seperti gadis pada umumnya, ujar kebanyakan orang.

Langit Senja. begitulah orang-orang memanggilnya. Anak yang tak tahu arah dan selalu melibatkan diri pada urusan orang lain. Entahlah, terkadang tak sengaja terlibat, terkadang terseret dan terkadang ia sengaja tuk melibatkan dirinya. Anak yang sebenarnya tak punya nyali, cengeng, penakut, namun mempunyai penampilan yang sangat kontradiktif. Ditambah kehadiran Cakrawala yang begitu menenangkan dan mengejutkan membuat hidupnya penuh semangat.

Namun disisi lain, kehadiran Elang yang tiba-tiba mengobrak abrik kehidupan gadis itu. membuat hidupnya sangat berwarna. Termasuk didalamnya menceritakan kehidupan Langit, dari pengalaman, kebahagiaan, pengorbanan, air mata, hidayah, tetes darah, hingga satu demi satu bulir-bulir halus, lembut, tak terpandang pelan namun pasti memasuki seluruh relung hatinya. Ya, sebut saja itu “cinta”.

Kamis, 01 Januari 2015

Epilog



Sudah beberapa hari langit begitu murung. Sudah beberapa hari pula hujan datang, menghangatkan, menyejukan, menenangkan. Tampak-tampaknya saat ini Sang Fajar sedang malu menampakkan sinarnya, hanya sesekali dengan frekuensi ringan, sinarnya menyinari bumi hanya untuk menyinari sejenak, membiarkan tanaman bersegera untuk berfotosintesis, mengeringkan pakaian para makhluk Tuhan yang kurang bersyukur, dan membuat Gadis itu terbawa suasana. ya, gadis itu sangat menikmati kehadiran kawannya dan enggan memikirkannya lagi. Memikirkan semua yang sudah terjadi. Ia benar-benar menyibukkan diri dengan segala hal yang dilewati. Hm, tak benar-benar tidak memikirkannya, tidak. Apalagi bukan sepenuhnya tak memikirkan laki-laki itu. bukan. Bukan seperti itu. hanyasaja, gadis itu, selalu berusaha menghiraukan perasaan di lubuk hatinya. Ia hanya ingin mengumpulkan segenap rasa yang masih menghantui disetiap sisi ruang hatinya. Ia hanya ingin membungkus rapi kenangan indah bersamanya dan cukup meletakkan bungkusan kenangan itu disatu sisi dalam relung hatinya, sangat dalam sangat jauh. Hanya itu. itu saja.

Gadis itu tak berusaha mencari dambatan hatinya. Tidak. Ia hanya membiarkan semua berjalan, sesuai skenario Tuhan. Memang, campur tangan-Nya tak pernah lepas dari kehidupan hamba-Nya barang sedetik. Tidak pasrah, tidak. Karena ia akan tetap menjalani semuanya,tetap berusaha tak berpangku tangan. dan pelan tapi pasti ia meyakini bahwa jodohnya, pasti akan bertemu dengannya suatu hari nanti. 

Ada yang bilang jodoh bukan ditangan-Nya, haha. Bebas saja, karena negara ini demokratis. Begitupun gadis itu, ia juga bebas, menentukan jalan hidupnya sendiri bukan? Ya. Ia hanya pernah mendengar seseorang berkata, semua itu ada saatnya. Jika bukan saatnya, ya berarti bukan waktunya. Urung wayahe kalau orang Jawa bilang. So, ia tetap tenang dengan dirinya sendiri.

“Lembaran hidup manusia memang seperti lembaran kertas. Terkadang perlu lembaran baru, terkadang harus melihat lembaran yang lama, terkadang ada lembaran yang hilang, sobek dan kotor, tak apa, itulah kehidupan. Semua hanya episode, episode yang lambat laun akan berakhir di pelabuhan terakhir bernama kematian. Tak perlu dipungkiri, karena semua hal adalah pilihan dan dari pilihan itu selalu ada resiko yang mengikuti. So, hadapilah. Bukankah jika seseorang hidup didunia ini. Itu berarti juga, ia telah menanggung resiko jika suatu saat nanti pasti kematian akan menjemputnya?” batinnya mulai berbicara.

Sudahlah,  hidup harus tetap diperjuangkan. Bukankah kau ingin menjadi kupu-kupu? Bukankah kau ingin menjadi permata? Bukankah kau ingin menjadi astronot?  bukankah kau ingin menjadi bulan? Bintang? Atau bahkan air? Dan Bukankah kau ingin meninggalkan sesuatu sebelum kau pergi?

“Sudahlah. Aku hanya menunggumu. Menunggumu menjadi semua itu. tidak. Aku tak mengharuskan kau menjadi seperti itu semua. Tidak. Hanya saja, Setidaknya aku ingin kau menjadi dirimu sendiri Sya. Itu cukup.” Konflik batinnya mulai memuncak.

“baiklah. Aku akan selalu tetap menjadi diriku sendiri. Dengan natural, hanya saja aku ingin seperti mereka itu. bukankah aku menyandang sebuah nama yang apik, aku takkan membiarkan nama itu hanya menjadi nama. Aku ingin mengatakan bahwa Ya. Nama itu pantas aku sandang, dan aku benar-benra akan berubah menjadi sesuatu. Sesuatu yang mungkin akan mengubah dunia menjadi lebih baik. Bukan dengan kekuatan, bukan dengan peperangan, melainkan dengan rasa welas asih , dan dimulai dengan ujung pena. Berkarya, terus berkarya, dan selalu berkarya.” Ujar Marsya Sataly dengan lantang berkata didepan langit pergantian tahun baru, dan lagi-lagi air matanya jatuh. Air mata
bahagia yang berasal dari energi baru didalam jiwa dan raganya.



Selamat tinggal masa lalu,,, selamat datang dunia baru . . .

Senin, 29 Desember 2014

Sya,

“Sya, lagi apa-apaan si kamu?” saut DJ sahabatnya.
“kenapa? Gimana?” balas Marsya polos.
“gak kenapa-kenapa gimana? Berangkat kuliah, tidur dikampus oke masih diterima. Ngejailin temen-temen oke lah, walau kemarin itu kamu agak kebangetan. Masa kamu mbohongi Si Mia kalau ada tugas. Dia kelabakan tahu.aku jadi ikut-ikutan. Udah gitu frekuensi njailinmu udah dalam taraf tinggi lagi. Anak tutor juga kena katanya. dosen, gila kali lu ya? Kemaren kuliah pulang gasik gara-gara kamu kan? Kamu ngilangin beberapa slide materi di komputer kampus. jadi yang harusnya bisa lebih dari 15 slide, kamu hapusi jadi tinggal 6 slide, dah gitu kamu bikin slide baru, kamu tulis Bu Enda cantik? Itu kamu kan.pesti kamu. Gila kamu. ga waras banget sih?”
“emm,,,” belum selesai Marsya berucap, DJ yang sebenarnya nama aslinya Dwi Jayanti melanjutkan “Kelakuan jorokmu makin menjadi. Masa pilek-pilek kamu pelihara tiga minggu. Udah gitu mbersihinnya pake kertas lagi. Ah, parah lu!”
“gini,,, maksudku . . . “
“tadi, aku tanya anak-anak. Kamu lebih banyak menghilang. Diem-diem ternyata lagi sendiri. Kamu pergi ke perpus sendiri. Fotocopy sendiri. Ke mesjid sendiri, dikelas juga sering sendiri. Ke ruang dosen juga sendiri. Biasanya sama Atsar. Dia kemana sih? Kamu balik ke Marsya yang dulu sih. Aku ga kuat lihat kamu yang kaya gini.” Saut DJ masih tetap melanjutkan celotehnya.
“aku boleh ngomong gak nih? Dari tadi mau ngomong di tabrak terus. Udah seminggu gak ketemu, datang-datang malah gini. Males ah aku.” Kata Marsya.
“ Aaaahhhhhh, Marsya, aku kan kawatir ama kamu. Abis aku kata anak-anak gitu. Apa karena habis ditinggal aku ya?” saut DJ dengan suara khasnya yang cempreng abis.
“ Hadeh. Ya boleh. Sebombongmu J. Ibu gimana? Dah sehat?”
“Udah alhamdulillah. Lha aku udah disini lagi kan. Sekarang balik kepertanyan. kamu kenapa? jangan nyelimur dah.”
“ Hahaha,,, kenapa apanya sih? Aku biasa aja kali. Soal Mia, aku ngerjain dia ya asal aja. Tapi setelah itu aku bilang aku bohongi dia koh. Masalah anak tutor, habis aku sering nungguin mereka. Aku sekali-kali kerjain mereka boleh aja donk. Masalah bu Enda, hehe. Abis kuliah jam setengah 1 baru dateng jam 1. Kita kan kesel, udah gitu ngajarnya kaya ga niat gitu. Ya aku cuma tahu isi hati anak-anak. Akhirnya aku sedikit hapus slide-slidenya. Cuma beberapa kok, itu juga tadi beberapa anak pada setuju. Setelah itu, ya aku memuji Beliau agar ga marah. Udah gitu doank. Oh ya, masalah jorok? Kaga lah. Orang aku minta tisu pada ga punya. Ya udah mau gimana. Masa pakai baju mbersihinnya?”
“tetep ga bisa diterima. Kenapa sih?cerita sih. Terus Atsar kemana? Nanti aku marahin kalau ketemu. Dia membiarkan dirimu sendiri. Aku tak terima.” Saut DJ, alaynya makin menjadi.
“aja lebay J. Dia jarang berangkat. Lagi bertapa kayanya. Aku mau gak mau sering TA-in dia. Habis aku risih, absenku hampir penuh, dia sendiri cuma baru satu. Masalahnya dibawah persis J. Kan jadi ga enak dilihat. Kesannya aku kerajinan berangkat kuliah.”
“halah, yang ada Atsar yang keterlaluan Sya. Dia kenapa sih? Apa dia frustasi lihat kamu kayagni?hehe. Kamu kenapa koh? Cerita sih?”
“ haha, kayagini gmn sih. Kaga. ga kenapa-kenapa aku. kalem bae sih. Hm, aku pulang yaaa.”
“baru ketemu langsung pulang? Entar aja sih. Main kekosan sini. Ibu kost nanyain tuh.”
“hahaha,,, besok-besok lgi ya, kamu katanya ada rapat. Ya elah, ibu kost ga mungkin nanyain aku. Mungkin nanya ke kamu kali. Kamu bayar kostannya mau kapan? Wkwkwk”
“ ihiiiii,, Marsya. Tau aja deh. Hihihihihihi. Yaudah, kamu baik-baik aja loh ya. Kalo ada apa-apa langsung kekosan. Langsung pulang loh. Jangan mampir-mampir.”
“ hm”

Ya. Gadis itu, ia sebenarnya tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia tak sengaja merubahnya. Semua mengalir saja. Hampir setiap tempat ia datangi. Disitu selalu ada tanda tanya. Kamu lagi kenapa?
Ia heran kejadian di tempat tongkrongannya juga gitu. Bu Toha sampai-sampai ngenes. Ia hanya bisa memberinya segelas teh dingin, minuman kesukaannya. Tanpa banyak bertanya, lalu Bu Toha berucap ” Kalau habis, ambil aja sendiri. Mau dihabisin itu persediaannya juga gak papa. Gratis pokoknya. Ga menerima pembayaran dari mba Marsya. Itu makanannya juga dimakan aja”. Si dul pun ikut-ikutan, “ambil aja tuh batagornya. Di enakin aja Sya. Mau tiduran apa selonjoran disitu aja. sambil menunjuk teras depan SD. Kamu istirahat sanah. Oh ya, Melisa nyariin kamu”.

Gadis itu semakin tak mengerti. Ada pa sih dengannya? Menurutnya dia biasa-biasa aja. Puncaknya saat ia sedang bekerja. Teman sekaligus adik iparnya, haha. Dia mengaku menjadi adik iparnya. Sejenak ia berfikir. “Aku sudah punya kaka ipar. Adik ipar. Lantas aku? Hahaha. Lupakan.”
Kembali lagi, adik iparnya berkata. “ kalau gak kuat pulang aja mba. Jangan dipaksain. Istirahat sana.”
“Aku kuat kok. Aku kan stronger. Hehe” Marsya hanya membalas seperti itu.
Dan alhasil, beberapa jam kemudian. BAMM. Gadis itu terjatuh, tergolek lesu. Tak berdaya. Ia mencoba membuat badannya kembali tegak. Sayang, ia terlalu lemah. Ia hanya berkata pelan pada tubuhnya. “Ada apa denganmu?”
Akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Dan saat diperjalanan pulangnya. Gadis itu meneneteskan air matanya. Ia menangis, menangis lepas bersama dengan turunnya rintik hujan. Tak tahu kenapa ia keluar lagi. Tetapi yang pasti ia sedikit bahagia.
Karena air matanya cepat hilang, memudar pergi bersama air hujan.

                                                                                231114 :23:19:23

Rabu, 17 Desember 2014

Thank.


hari ini begitu mengejutkan. benar. memang benar, hari esok selalu misterius. aku hanya bisa tersenyum kecut. tak apa. aku terima Tuhan. aku selalu berusaha menjadi segoro. samudra. bukan hanya secangkir kopi. aku akan menjadi sangat luas melihat semuanya.

hm, mungkin. ini yang terakhir. benar-benar terakhir dari kisahku. aku tak sanggup meneruskan. oh Tuhan, terimakasih, hampir-hampir Kau selalu memberiku ilmu, kawan dan apapun itu yang membuatku terus mempelajari arti hidup dan membawaku ke perjalanan pulang yang hakiki.

terimakasih Tuhan, kau sudah menciptakan dua saudara yang sangat melengkapiku, dengan segala hal tentang mereka. aku mencintai kalian lebih dari siapapun. aku mencintaimu mba, aku mencintaimu de. aku hanya bisa berharap, semoga kalian selalu baik-baik saja, bahagia dan selalu dlam lindungan-Nya.

terimakasih pula buat teman-temanku, semuanya. ya, semuanya selalu menginspirasiku. menyuport aku, dan mau menjadi teman-temanku, terimasih kawan. aku menyayangimu, semua. semuanya.

terimakasih juga tuk Atsar. terimakasih kata-katamu sungguh menenangkan. " Sya. cinta itu bukan sesuatu hal yang mengharuskan seseorang memiliki orang tersebut. cinta itu maknanya luas. kamu bisa menyayanginya dengan seperti halnya kamu menyayangi teman-temanmu. seseorang yang ingin terburu-buru mengungkapkan perasaannya itu kenapa, karena ia ingin memilikinya. padahal untuk menjadi sahabantnya itu udah luar biasa. coba kamu berfikir bahwa dia sangat pantas untuk menjadi sahabatmu yang selalu ada disaat mengobrol dan bertukar cerita. sehingga takkan ada kata putus, tak ada kata mantan. bukannkah lebih indah?"

dan terimakasih untuk hidup. terimakasih untuk rintik hujan, terimakasih untuk malam, terimakasih untuk setiap tetesan air mata, dan terimakasih tentang semuanya. terimakasih. i love you, everything. forever in love. 

persembahan terakhir tuk semuanya,

Ooh, you make me live. Whatever this world can give to me. It's you, you're all I see.
Ooh, you make me live now honey. Ooh, you make me live . . .

Oh, you're the best friend. That I ever had, I've been with you such a long time, You're my sunshine, And I want you to know, That my feelings are true. I really love you (Ooh). Oh, you're my best friend. . . . . .

Ooh, you make me live. Ooh, I've been wandering round, But I still come back to you (still come back to you), In rain or shine, You've stood by me boy, I'm happy at home (happy at home). You're my best friend . . . . . .

Ooh, you make me live. Whenever this world is cruel to me, I got you, to help me forgive -oo oo ooh,
Ooh, you make me live now honey. Ooh, you make me live . . . 

Oh, you're the first one. When things turn out bad. You know I'll never be lonely. You're my only one. And I love the thing. I really love the things that you do.

Oh, you're my best friend . . . Oh, ooh, you make me live. . . .

I'm happy (happy at home). You're my best friend,

Oh, oh, you're my best friend,

Ooh, you make me live, Oo oo ooh. . . . . . .

You, you're my best friend. . . 


~Marsya Sataly~
16122014; 23:14:07

Jumat, 12 Desember 2014

*


Hujan turun begitu deras, menghangatkan, menyejukkan. Hari ini Marsya memang tidak banyak beraktifitas. Karena lagi-lagi entah mengapa ia enggan tuk pergi kekampus. Mungkin karena ia sedang jauh dari Pencipta. Ia hanya sering berkata disela-sela kegiatannya “maafkan hamba-Mu yang keji ini Ya Robb.”

Benar, sebenarnya ia ingin sekali beruzlah. Setidaknya kali ini benar-benar sendiri. Mengikuti kaki melangkah, melihat keindahan-Nya, mendatangkan kehadiran dirinya sendiri, dan mencari ilham. Tanpa mencari seseorang yang dituju. Karena menurutnya, ilmu itu sungguh sangat luas, terbentang tinggi, dan berserakan seperti semua manusia yang ada dibumi ini. Ia benar-benar menghargai ilmu. Baginya ilmu laksana semburat cahaya yang mampu menerangi segala hal yang hitam pekat, legam tak berkesudahan.

Kali ini hujan sungguh sangat deras. Sangat deras. Membuat tubuhnya yang sedari tadi sudah lelah bekerja, protes pada tuannya untuk berbaring tidur. Namun entah mengapa, Marsya. Benar-benar ingin bercumbu dengan kawan barunya ini. Dengan sedikit tak sabar, karena ia sedang dan selalu belajar ilmu sabar, gadis itu membuka halaman yang sudah ia tandai. Hanya membutuhkan waktu satu setengah jam. Ia telah mencumbui, meraba seluruh halaman, meresapi saripati danmendapat hujatan keras, yang pasti hujatan pengobar semangatnya yang selalu meletup-letup.

Idah mengajarkannya tentang kesederhanaan, Ucon tentang pencarian jatidirinya, buruak kamba dengan kesetiakawanan dan toleransi yang tinggi, Joni dengan lagu tak ada yang abadi, Johan dengan perjuangan kehidupannya, Pak Latif dengan segala kesabaran dan keridhoannya, serta Muhammad Fatih. Dengan segala hal kegigihan, pengorbanan, dan ketulusan hatinya.

Memang benar, semua hal yang terjadi disetiap detik manusia hanyalah episode. Runtutan episode yang dengan mudah berubah sewaktu-waktu. Terkadang sedih, terluka, senang, tertawa, menderita, marah, bahagia. Namun ingat, semua itu hanyalah episode, semua akan berlalu, dan Tuhan pasti akan menghantarkan manusia ke episode yang terbaik.

Gadis itu kembali berfikir, bahwa uzlah tak begitu penting. Yang terpenting adalah ia bahagia. Dengan cara menyenangkan orang lain. Dan tak ada yang lebih membahagiakan selain membuat orang lain bahagia. Melihat orang lain tersenyum lebar dan membuat mereka tertawa lepas mengurai segala beban yang sedang dipikulnya.

Dan lagi-lagi, ia berkata dalam hati, “ semua akan kulakukan, tulus tanpa pamrih. Tanpa menodai sesuatu, bening, murni, tak terbatas dan semua berasal dari relung hatiku.”

“Dan, aku sangat bersyukur bahwa Tuhan telah menciptakanku. Aku. Marsya. Hamba-Mu yang lalai ini, hanya mampu berterimakasih. Terimakasih Tuhan. Aku mencintai-Mu. Aku mencintai-Mu Tuhan. Aku mencintai-Mu Sang Pencipta. Maaf, mohon ampun Ya Alloh. Hamba-Mu yang hina ini telah lancang. Astagfirulloh. Ampun Ya Alloh. Ampunilah segala kekhilafanku.”

Kamis, 11 Desember 2014

*

Hujan turun begitu deras, menghangatkan, menyejukkan. Hari ini Marsya memang tidak banyak beraktifitas. Karena lagi-lagi entah mengapa ia enggan tuk pergi kekampus. Mungkin karena ia sedang jauh dari Pencipta. Ia hanya sering berkata disela-sela kegiatannya “maafkan hamba-Mu yang keji ini Ya Robb.”

Benar, sebenarnya ia ingin sekali beruzlah. Setidaknya kali ini benar-benar sendiri. Mengikuti kaki melangkah, melihat keindahan-Nya, mendatangkan kehadiran dirinya sendiri, dan mencari ilham. Tanpa mencari seseorang yang dituju. Karena menurutnya, ilmu itu sungguh sangat luas, terbentang tinggi, dan berserakan seperti semua manusia yang ada dibumi ini. Ia benar-benar menghargai ilmu. Baginya ilmu laksana semburat cahaya yang mampu menerangi segala hal yang hitam pekat, legam tak berkesudahan.

Kali ini hujan sungguh sangat deras. Sangat deras. Membuat tubuhnya yang sedari tadi sudah lelah bekerja, protes pada tuannya untuk berbaring tidur. Namun entah mengapa, Marsya. Benar-benar ingin bercumbu dengan kawan barunya ini. Dengan sedikit tak sabar, karena ia sedang dan selalu belajar ilmu sabar, gadis itu membuka halaman yang sudah ia tandai. Hanya membutuhkan waktu satu setengah jam. Ia telah mencumbui, meraba seluruh halaman, meresapi saripati danmendapat hujatan keras, yang pasti hujatan pengobar semangatnya yang selalu meletup-letup.

Idah mengajarkannya tentang kesederhanaan, Ucon tentang pencarian jatidirinya, buruak kamba dengan kesetiakawanan dan toleransi yang tinggi, Joni dengan lagu tak ada yang abadi, Johan dengan perjuangan kehidupannya, Pak Latif dengan segala kesabaran dan keridhoannya, serta Muhammad Fatih. Dengan segala hal kegigihan, pengorbanan, dan ketulusan hatinya.

Memang benar, semua hal yang terjadi disetiap detik manusia hanyalah episode. Runtutan episode yang dengan mudah berubah sewaktu-waktu. Terkadang sedih, terluka, senang, tertawa, menderita, marah, bahagia. Namun ingat, semua itu hanyalah episode, semua akan berlalu, dan Tuhan pasti akan menghantarkan manusia ke episode yang terbaik.

Gadis itu kembali berfikir, bahwa uzlah tak begitu penting. Yang terpenting adalah ia bahagia. Dengan cara menyenangkan orang lain. Dan tak ada yang lebih membahagiakan selain membuat orang lain bahagia. Melihat orang lain tersenyum lebar dan membuat mereka tertawa lepas mengurai segala beban yang sedang dipikulnya.

Dan lagi-lagi, ia berkata dalam hati, “ semua akan kulakukan, tulus tanpa pamrih. Tanpa menodai sesuatu, bening, murni, tak terbatas dan semua berasal dari relung hatiku.”

“Dan, aku sangat bersyukur bahwa Tuhan telah menciptakanku. Aku. Marsya. Hamba-Mu yang lalai ini, hanya mampu berterimakasih. Terimakasih Tuhan. Aku mencintai-Mu. Aku mencintai-Mu Tuhan. Aku mencintai-Mu Sang Pencipta. Maaf, mohon ampun Ya Alloh. Hamba-Mu yang hina ini telah lancang. Astagfirulloh. Ampun Ya Alloh. Ampunilah segala kekhilafanku.”