Rabu, 27 April 2016

Perjalan Es Tung-tung part 3

Selamat siang. Eh malam. Haha
Oke aku alan melanjutkan ceritaku melalui perjalanan es tung-tung part 3, singkat aja yaa.
Setelah dua minggu aku wawancara informanku, lalu aku mulai membuat draft. Lalu aku mulai sering sekali ke perpustakaan untuk mencari buku, dan referensi lain dari rak buku kesayanganku, haha. Seperti ini

Haha. Yaa buku adalah teman sahabat yang paling mengerti aku. Haha. Balik lagi. Aku berusaha semaksimal mungkin. Aku mulai ngedraft skripsi hari Minggu kedua bulan Maret 2016. Setelah itu, Senin hingga Minggu depannya aku ngedraft terus. Haha. Ngedraft di malam hari,dini hari. Aku sudah siapkan kopi. Cemilan. Wedangan. Lagu penyemangat dan yaa laptop merah kesaayanganku. Setiap hari aku mentargetkan selesai satu tema. Skripsiku kan tentang hiv, jadi aku ingin melihat sejauh mana pengetahuan siswa di purwokerto mengenai hiv aids. Aku lalu setiap harinya dengan yaa sedikit tegang namun santai. Pagi siangnya aku ke kampus untuk menghadiri teman yang seminar proposal. Sorenya aku di rumah yaa istirahat sebentar. Malamnya ya sekitar abis isya aku baru mulai bercumbu dengan skripsiku.

Sesekali di hari Rabu kalau tidak salah aku mengangkat tangan. Lelah sekali. Cape sekali. Pusing sekali. Tiba-tiba saat dini hari dengan suasana hujan turun tidak begitu deras, dengan diiringi lantunan lagu "fix you" aku meneteskan air matam aku cape. Aku lelah. Sungguh ingin melepaskan segalanya kala itu. Aku lalu menghubungi kakaku. Untuk meminta suport. Haha yaa siapa lagi selain keluargaku dan teman dekatku? Aku tidak punya si Dia yang menyemangatiku. Haha. Kakaku menyemangatiku. Yaa dengan semangat yang amat keras sehingga hari itu aku bisa menyelesaikan pembahasan sesuai target.

Tak terasa hari Jum'at datang. Aku....
Aku dengan kecapeanku, aku tetap berjuang. Hingga entah jam keberapa saat aku mengerjakan. Saat yaaa, jari-jariku menari di keyboard laptopku, tes tes. Haha. Buntalan berwarna merah turun dari hidupku. Tetes demi tetes hingga membasahi kertas di bawah. Haha. Gembira. Sedih juga. Yaa beginilah saya. Hm. Setidaknya aku akan berusaha sebaik mungkin untuk lulus. Ya setidaknya setelah itu bisa mbantu orang tua. Setidaknya juga aku selesai beasiswa aku sudah selesai kuliah. Haha. Bidik misi oh bidikmisi. Aku benar-benar bersyukur dapat mendapatkannya.

Singkat cerita,aku hingga tahap kesimpulan. Disitu aku sangat senang karena itu artinya sebentar lagi selesai. Alhasihari minggu kalau tidak salah,selesai. Dengan 110 halaman. Hanya dikerjakan selama 9 hari proses ngedraft, dan 14 hari proses wawancara.
Hari Senin aku berikan pada pembimbingku, dan dua minggu kemudian pembimbing satu maupun dua mengajakku ujian akhir alias pendadaran.

Wauw. Aku tak percaya,karena jadwal wisuda dimajukan, aku takut tak bisa wisuda mei. Haha.wisuda sekaligus kado terindah di usiaku yang ke-22. Aku bahagia namun langsung mempersiapkan semua, dan alhasil dengan perombakan di bab 3 aku ,tepatnya tanggal 27 April 2016 aku pendadaran. J 08.10-10.10.
Rasanya itu plong tapi belum sepenuhnya plong. Aku langsung melanjutkan revisi selama seminggu, karena itu batas untuk yudisium. Haha, dan tanggal 4 Mei 2016 dengan mata sembab,aku mengmpulkan skripsiku.
Lalu tanggal 19 Mei aku ulang tahun, dan tanggal 24 Mei aku wisuda.

 
      Saat ultahku...                        saat pelepasan
                                                          Saat yudisium.

Saat pembekalan satu angakat. Yang luls baru 4 otang


Habis wisuda


   Saat duduk di kursi panas ruang pendadaran

Haha. Yaa begitulah perjalanan es tung - tungku. Semoga ada waktu untuk dan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan es tung tung 2 ku. Aaamin

Yang pasti namanya usaha harus tetap diperjuangkan. Namanya usaha perlu ada bekingan doa. Namanya usaha harus perlu keikhlasan dan semangat. Haha. Jadi bermimpilah sebelum kau mimpi jelek. Haha. #oranyambung

Sabtu, 27 Februari 2016

Sore, Malam Minggu Part 9


Hayyyy... Hahay,,,
Hari ini tiga bidadari lagi kumpul nih... haha. Aku, kakakku, adikku. Haha. #bebeksilem lah. Haha. Sebenarnya aku masih enggan untuk menulis. Yaaa, adalah something. Sama, haha. Lagi ngejar semprop bulan ini. Alhamdulillah kecapai. Hm.. Okee, balik lagi di acara yang tak jelas, sore. Malam minggu ke sembilan. bersama saya orang termanis sedunia, Marsya Sataly.

Hm.. sebenarnya ada dua hal yang saat ini masih membekas dipikiranku. Pertama, aku menghubungi seseorang yang seharusnya aku tak hubungi. Saat itu, aku sedang worry pagi itu. seharusnya semprop jam 10, lalu diundur jadi jam 12. Haha. Itu, hanya alasanku saja. aku hanya ingin tulus meminta doa restunya, mengabari dia aku akan semprop. Aku kira setidaknya, sebagai manusia, tanpa memikirkan apa yang telah terjadi diantara kita, ia akan setidaknya membalas pesanku. Setidaknya bilang saja “Y” atau apalah. Atau apalah. Atauuu apalah. Haha. Saat itu aku menyesal. Haha. Menyesal menghubunginya. Menyesal mengapa aku masih memperhatikannya. Haha. Walau aku ragu rasa itu masih ada. Haha. Tapi entahlah, aku hanya menyayangkan menghubunginya saat itu.

Kedua, hmm...
Nim yang bersebelahan denganku tiba-tiba hadir di sela-sela semprop. Sempropku saat itu sudah penuh sesak dengan peserta. Yaa bukan gimana-gimana, maksudnya banyak temanku yang tidak kebagian kursi dan menunggu di luar. Lalu. hal yang sangat aku tak harapkan datang. Dia hadir, dengan membawa kursi dari luar. Belum cukup membuatku buyar, dia bertanya saat sesi pertanyaan. Padahal, sangat jelas itu proposal penelitian aku kan pernah di garap bareng dengannya. Haha. Lucu kan?

Aku buyar bukan karena deg-degan. Aku buyar bukan karena masih ada rasa. Haha. Bukan. Aku hanya tak ingin berharap ia datang. Aku tak ingin Kau datang! Haha. Siapa kau? Haha. Sahabat bukan. Tak patut dibilang teman. Haha. Kau itu terlalu polos, atau terlalu egois. Haha. Sudahlah. Aku malas berhubungan atau hanya memikirkan kejadian setelah kau semprop. Sekarang kau mau apa. atau kau sekarang siapa teserah. Aku sudah tak peduli. Karena, haha. Memang sepele mungkin bagimu, hanya saja, hal sepele belum tentu dapat disepelekan. Bukankah kau pernah belajar itu juga? Haha. Sungguh. Aku sedih, melihat kau ada saat itu. semuanya. Semua yang sudah kau lakukan begitu membekas. Haha. aku sudah enggan. Enggan bukan berarti benci. Bukan. Hanya saja, aku masih tak habis pikir dengan apa yang kau lakukan. Apakah tidak bisa kau bicarakan denganku baik-baik? Bukankah kau punya sebuah mulut untuk bicara? Haha. aku tak benci. Hanya sudah enggan saja. sudah malas. Sudah malas dimanfaatkan, secara tak langsung seperti itu.

Dan, haha. ini mungkin sore malam mingguku terserius yang pernah aku buat. Haha. sorry, hatiku terlalu kaku untuk membicarakan serba-serbi kehidupanku tentang laki-laki. Terlebih tentang cinta. Aku lelah. Sudah enggan mencari-cari yang katanya belahan jiwa. Aku hanya ingin memikirkan masa depanku. Karena, aku punya mimpi besar. Dan. Bicara tentang mimpi. Aku punya mimpi. Hmm. Aku jadi penulis. Aku sudah memiliki konsep untuk membuat buku. Baik novel, roman, atau sebuah tulisan tentang hidup. Yang dekat ini, aku sedang ingin lulus wisuda dengan menerbitkan sebuah novel. Sebuah tulisan tentang filosofi. Haha. gelar? Haha. itu sudah biasa bukan. Toh, gelar dimataku tak terlalu menjadi sesuatu yang terlihat hebat. Haha. aku ingin bisa sesuatu yang lebih. Lebih menurut diriku. Bukankah dorongan yang paling hebat berasal dari diri sendiri?

Haha. yaaa, lagi-lagi aku berbicara tentang kejonesan. Haha. balik ke aku yang dulu kan. Haha. jones. Iyaaa. Biarlah, jones yang penting banyak yang care. Haha. banyak yang masih membutuhkan, walau ada yang manfaatin. Haha. ups. Haha. yasudahlah. Haha. aku sudah terima semuanya. Aku masih tetap bahagia. Dan masih selalu bisa bahagia. Karena bahagiaku simple. Haha. melihat semua bahagia. Termasuk kalian-kalian itu. haha.

Sudahlah. Haha. ini acara malam minggunya jadi agak aneh yaa. hahaha. mana ini lagi pada bahas pernikahan lagi. Haha. aku kelewat jones banget rasanya. Hahahaha. Jones-jones. Haha. tapi aku pernah di titik kesepian banget loh. Haha. saat aku down. Menangis sendiri. Pulang sendiri. Makan sendiri. Tidur sendiri. Haha, palah singing. Haha. baiklah. Tunggu acara acaraku lainnya yaaa. Dan, semoga novelnya bisa terealisasi. Haha. walau sebenarnya endingnya sudah tau. Dulu waktu endingnya belum tahu, aku semangat banget buatnya. Eh, sekarang, hahahha. Sudah lah. Hahahha. Baiklah selamat sore, malam minggu. Selamat hujan malam yang panjang. . . . .


~Marsya Sataly~ 

Selasa, 23 Februari 2016

Rindu

Hujan,maukah kau menitipkan salamku?
Bahwa sungguh aku sangat rindu sekali padanya. Sangat rindu,hingga ruangan ini terasa,walau hanya sekedar bernafas.

Sabtu, 30 Januari 2016

Mas . . . (Last)



Mas.
Mas mas mas.
Massss......

Haha. Aku memanggilmu lagi. Bodoh bukan? Haha. Bukan aku kalau bukan bodoh. Hm. Banyak hal yang terjadi. Dan mungkin aku miskin teman. Atau aku miskin kepercayaan pada orang? Haha. Entahlah. Yang pasti aku sedang sedih. senang, gembira, lelah, sabar, dan haha letih. Aku sedang sedih, mengapa aku begitu sedih setelah semua hal yang sudah terjadi. Aku sedih, mengapa aku tidak mengikhlasnya secara cepat. Aku sedih, mengapa aku masih setengah-setengah, dan aku sangat sedih karena diriku belum bisa benar-benar lepas denganmu.

Aku sedang bahagia. Karena, aku masih bisa berusaha, masih mau bertahan, dan aku masih bisa menjaga apa yang harus aku jaga. Apa yang menjadi tanggung jawabku, dan aku berusaha sebaiknya. Aku berusaha sangat keras untuk tidak menghubungimu. Haha. Padahal seharusnya biasa aja bukan? Tetapi, entahlah. Aku, aku berusaha menjadi kakak yang baik. 

Adikku, tiba-tiba saja sudah memutuskan untuk berkerudung. Dia bercerita hanya kekurangan baju pramuka dan kerudungnya. Aku bertanya padanya, “baju pramukaku bukannya masih?” . dia menjawab, “ masih, cuma masa iya aku pakai punyamu itu?”. aku berfikir sejenak. Oh ya, seragam yang aku jahit bagian lengannya dengan tanganku sendiri. Seragam yang sebenarnya tak bisa dibilang seragam, dan haha, aku hanya teringat bagaimana motivasi aku saat memutuskan untuk berkerudungan saat itu. lalu aku berbicara dengannya. Dan ia mengutarakan kesungguhannya, hingga aku yakin dengan ucapannya. Setelah itu, uang tabunganku yang untuk seminar proposal, aku pakai.

Jadi malam itu, aku memintanya menemani ke kampus, sebenarnya tidak. karena aku membawanya ke toko seragam, dia berkata “udah mba aku pinjam aja”. Aku menyaut, “pinjam gimana? Mau dipakai dua setengah tahun lagi koh. Udah beli aja.” Dan sayangnya tokonya tutup. Akhirnya aku hanya memberikan uang padanya 80.000. dia menolak. Namun aku memaksa. Dan selang dua hari, ia memamerkan baju pramukanya padaku. Haha. Dia mencium keningku. “makasih mba” katanya. Haha. Aku tertawa dalam hati, “bahagia”. 




Hmm. Aku sedang lelah, memang benar juga. Kira-kira empat hari ini aku merevisi proposalku. Masih banyak salah, dan haha, ada cerita panjang yang melelahkan. Tapi yasudahlah, aku hanya mencoba membenari sebisa mungkin, dan setelah itu, aku hanya bisa berharap dan pasrah. Semoga saja ada kata ACC minggu depan, kalau gak, yaa aku cukup kerjakan revisian hingga kata itu muncul. 

Sebenarnya yang membuatku sedih adalah, aku seperti takut berbuat baik, namun sangat mudah berbuat jahat. Akuu, hampir setiap hari aku melihat orang berjalan, baik membawa helm, membawa bakul. Membawa anaknya, dan aku melihat segeromboln anak SMP yang sedang berteduh, memasukan buku-bukunya ke dalam tasnya temannya karena ada rain cover dalam tasnya. Aku sempat berhenti, dan mengambil tas kresek dalam tasku, aku balik ke mereka, dan, haha. Aku malu, aku takut  padahal aku hanya ingin memberikan tas kresek itu, hanya saja, akhirnya mereka hanya melihatku dengan kebingungan, dengan tangan kiri menggenggam tas kresek. Aku balik. Dan ini kesekian kalinya begini. Aku melihat ada nenek-nenek. Sepertinya kesusahan, aku ingin membantunya seperti tahun-tahun lalu. dimana aku peka dan berani, mengantar anak kecil yang sedang jalan, mengantar anak kecil yang pulang kerumahnya, mengantar nenek-nenek yang habis pergi berladang. Ah,,,, sekarang, untuk menawarkan tumpangan saja aku susah. Aku sedih, dan aku seperti manusia tidak berguna. 

Mas, aku sedang sabar. Karena, tulisanku tak kunjung aku goreskan. Aku bertekad membuat sebuah novel. Hanya saja sampai sekarang itu semua hanya sebatas folder dalam laptop ini. Ah,, aku benar-benar pintar berkata-kata, namun aku sangat sulit untuk membuktikan. Seperti halnya, aku mampu berkata bahwa aku masih memikirkanmu, namun, aku tak bisa menghubungimu. Walah, haha, aku sudah beberapa kali telah mengetik dan tinggal mengirimkannya padamu, hanya saja, sel aktifku melarangnya, dan hahaha. begitulah aku.

Aku terkadang sering membunuh waktu, baik dengan tidur, kumpul dengan teman, mainan, segala mainan. Bacaan webtoon yang sudah aku jelajah sampai dalam, mendengarkan lagu, belajar bahasa inggris yang iya iyaa gak alias bolong-bolong. Hingga, menggarap revisian yang tak berujung, haha. Satu lagi mengenai revisian yang membuatku sedih. Aku sudah tak punya sahabat dalam duduk bareng. Aku sudah kkehilangan sahabat yang mengingatkanku. Aku sudah tak punya sahabat mengerjakan revisian bersama. Aku sudah tak punya sahabat dalam tempat itu. haha, 

Yaa, dia yang sudah melamar cewenya. Sama denganmu. Mungkin karena aku mulai berharap padanya mas. Habis dia kagak pernah cerita tentang cewe. Dan bangunan yang mulai aku bangun kembali seketika runtuh karenanya. Tapi yasudah, itu hanya masa lalu dan yasudah. Haha. Aku menerimanya. Ini sudah hampir satu bulan, dan aku berharap ini tulisanku terakhir dengan judul ini. Sebenarnya aku banyak berfikir apakah salah aku menulis ini. Tapi yasudahlah, maafkan aku, aku tidak ingin membuat beban. 

Oh yaa satu lagi, dosenku menegur tulisanku yang sangat jelek, karena dia harus membersihkan kacamatanya, dan dia masih belum bisa melihat tulisanku. haha, aku sih seneng-seneng ajaa, berarti dia perhatian. Setelah nilai keluar, aku melihat dia memberiku nilai A. Aku menghubunginya, dan berkata bahwa dia becanda. Pasti dia sebenarnya bisa membaca. Haha. Aku hanya berterimakasih padanya, karena dia dosen yang mengajar banyak materi-materi seperti dinamika kelompok, sosiologi organisasi, haha, intinya, dia yang membuat aku mengerti, menerima, dan jauh lebih dewasa dalam menghadapi kelompok. 

Aku berkata, "semoga saja suatu saat bisa menjadi dosen seperti dirinya". Lalu, dosen itu menjawab, “ seharusnya amoy belikan kacamata baru supaya bisa baca tulisanmu. Hehehe. Saya doakan nanti amoy bisa menggantikan saya sebagai dosen” dan, ini yang terakhir mas. Aku ingin menjadi dosen. Hanya saja aku tak terlalu berharap. Aku, saat ini. Cita—citaku, hanya ingin membahagiakan orang-orang disekitarku. Aku berjanji padamu, mas. Suatu saat, akan menjadi orang yang berguna untuk semua orang, orang yang “membawa berkah” seperti namaku.


~Marsya Sataly~

Jumat, 22 Januari 2016

Mas . . . (2)

Hay,
Hello my brother? How are you?
Hahaha. lagi. Sorry. Aku gak tahu lagi harus cerita sama siapa. Basi yaa? yaa begitulah aku. Masih ingin bercerita padamu. Sorry tidak ingin membuat beban atau apalah yang lain. Aku hanya ingin menungkapkan apa yan sedang mengganjal. Selain Yang Buat Hidup, yaa aku ingin bercerita pada manusia. Setidaknya seseorang.

Hm. Langsung aja, kemarin sore, tepatnya jam tiga. Adikku pulang, hanya sebentar ganti baju terus dia berangkat lagi. Aku melarangnya, menghadangnya, dan aku tak mengizinkan ia berangkat. Karena hari sudah mulai mendung, banyak kilat petir dan dia sudah sering pulang sore atau malam hanya karena organisasi sekolah. Badannya juga tambah kurus dan intinya sebelum kejadian ini aku sudah memintanya untuk memilih beberapa organisasi saja. dia tidak mau, dia ngeyel pengin berangkat, sampai akhirnya bilang ibu dan berkali-kali dia mendesak ibu untuk tetap berangkat, hingga ibu bilang, terserah aku. Dan aku tetap tidak mengizinkan dia berangkat. Walau alasannya ada kumpul organisasi. Aku tak peduli, karena cuaca sangat tidak mendukung. Apalagi lagi musim penyakit DB.  Setelah itu, adu cekcok terjadi, dan haha. Hampir mirip kejadian dahulu bersama kakaku yang cewe hanya karena masalah itu, haha, masalah remaja yang sampai sekarang entah tak pernah terkuak, seperti hanya angin lalu dan haha, hingga kini aku menganggap itu seperti kecerobohanmu dan semua.termasuk aku juga. Haha.

Setelah itu, adikku masuk rumah, dan duduk dilantai menangis sejadinya, memanggil nama ibu ibu terus, dan aku hanya bisa duduk di motor. Karena kunci motor masih ada di dia. Lalu setelah itu, hmm. Dia membanting Hpnya, dan nangis ngamuk dengan leluasa. Aku hanya sedih. Bingung, namun aku begini karena aku kakaknya. Aku hanya ingin menjadi kakaknya yang baik.

Kira-kira setengah jam kemudian dia masuk kamarnya, aku hanya masuk kerumah dan mengunci pintu, tanpa memerdulikan motor yang berada diluar. Lalu aku duduk di kursi, hanya memantau adikku tercinta. Sesekali dia menjerit, menangis kencang, hingga beristigfar terus. Alhasil aku akhirnya mendekatinya, mencoba berkata baik-baik dan akhirnya dia menunjukan Hpnya yang ia banting tadi. Haha, aku bingung harus ketawa atau marah, yang pasti HP itu pecah. Hpnya rusak dan benar-benar tak bisa dipakai lagi. 

Setelah itu, aku menasehatinya agar tidak terbawa hawa nafsunya, janan terlalu emosi sehingga kamu bisa lepas kendali. Sekarang coba hpmu satu-satunya dibanting olehmu sendiri, nyesel kan sekarang? Dia hanya menangis lagi, kali ini lirih, karena mungkin dia mulai menyadari dan menyesali perbuatannya. Aku juga mengatakan padanya, bahwa sejelek-jeleknya keluarga ini, setidaknya keluarga ini yang masih mau menerimamu, cobalah mengerti keadaan dan jangan buat kawatir orang tua. Dengan adanya kamu pulang, dirumah, itu orang tua sudah senang. Jangan terlalu banyak kegiatan, toh tubuhmu perlu istirahat. Dan aku berkata padanya, sungguh. Kalau aku juga kesepian, aku sengaja sering dirumah, karena aku bertugas mengantar jemput ibu, aku katakan padanya, aku juga pengin cerita ke kamu, aku butuh kamu dirumah buat sharing, dan kamu tahu. Baru ajaa, aku tahu, bahwa cowo yang mulai aku harapkan, cowo kampus yang nimnya bersebelahan denganku. Cowo kampus yang sangat nyaman berada disebelahku. Cowo kampus yang selalu memanggilku ketika ia butuh bantuan, dan hampir ada juga ketika aku sedang kesulitan. Cowo kampus yang baru beberapa hari seminar proposal dengan daya dan upaya yang aku lakukan untuk menyukseskan acaranya itu, apalagi ada judul yang aku berikan padanya, haha. Kamu tahuuuu yin? 

Dia mau melamar cewe. Cewe lain yang tak pernah ia ceritakan padaku. Kami memang tak pernah ada hubungan, namun yang sangat disayangkan, mengapa ia tak bilang dari awal, setidaknya aku akan menjaga jarak dengannya. Setidaknya aku akan marah ketika teman-teman meledek kami berdua. Aku akan menjauh darinya, dan aku takkan menangis ditelpon saat aku dtinggal lamaran oleh cowo, haha, iyaa. Iyaa cowo itu kamu mas. Haha, dan yang gak habis aku pikir, mengapa ia tidak gentle dengan mengatakan langsung padaku, ia palah pura-pura salah kirim padaku, tentang lamaran dengan cewenya, hello. 

Dan terakhir, ia memintaku menghapus foto berdua dengannya di facebook. Dan aku hanya menanggapinya dengan enteng. Geh, biasa aja sih ngapa. Toh kita temenan, dan toh kata-katanya itu tidak ada unsur seperti sepasang kekasih. Aku ga habis pikir, terserah kamu saja.  dan seketika aku dan adikku menangis mas disitu. 

Aku benar—benar sedih, setelah bangunan baru yang sedang aku tata ulang kembali, tiba-tiba saja dia menghancurkan semua, dengan pikiran egoisnya dan kekunoaannya, dan aku menyesal kenapa aku berkenalan dengannya dan mengapa aku bisa dekat dengannya? 
Dan untuk ketiga kalinya aku merasa bodoh, bodoh menyukai orang yang salah, bodoh pada diriku sendiri dan aku entah mulai muak dengan semua ini. Kamu tahu, aku jatuh lagi kelubang yang sama. Tapi, haha, yasudah. Aku terima semuanya, memang dasarnya aku sangat bodoh.


Haha. Aku bohong. Aku menangis lagi, walau hanya sebentar, aku menangis dipojok kamar, aku benar-benar sedih. sedih betapa bodohnya aku. Aku benar-benar bingung, dan aku benar-benar lelah. Aku takut jadi kaka yang tak baik, dan aku takut, aku mulai enggan untuk jatuh cinta. Apa yang harus kulakukan? Aku pun masih mencoba menghubungimu kemarin. Aku sudah mengetik, dan aku mengurungkan niat. Hanya ini batasan yang coba aku buat. Maaf, kalau mengganggumu lagi, hiraukan saja aku, ibarat duri yang menancap dalam kulitmu. Buang saja, anggap saja aku hanya kicauan burung yang sejenak lewat dihadapanmu. Maaf sekali, aku belum bisa melupakanmu. Belum bisa benar-benar keluar dari kehidupanmu. Mungkin suatu saat sudah tidak ada lagi kakak. Yang ada hanya orang lain yang tak kenal dijalan. Maaf. aku sungguh minta maaf.


~Marsya Sataly~