Ucapan A B C sudah beribu-ribu terlontar dalan mulut pendosa ini.
Tidak. Mungkin bagi kau itu bukan mulut. Tetapi pisau tajam yang menerkammu. Seakan menusukmu. Membuatmu sakit.
Ah. Itu hanya bayangan yang ada dipikirkanmu. Apa kau juga tau, bahwa kau melakukan itu semua padanya?
Ah tidak. Sepertinya dia lebih takut akan tajamnya pisau yang kau balas keluarkan itu. Ia jauh sangat takut, karena pisau yang kau keluarkan itu bisa sungguh mematikan hidupnya.
Hm. Apa kau tahu, bahwa ia sungguh sangat mencintai.jauh memikirkanmu. Jauh ingin membahagiakanmu. Jauh ingin melihatmu tertawa. Haha. Sayang, kau sepertinya tidak melihat jelas. Kau terlalu melihat mulutnya yang banyak membuat Ia menjadi pendosa.
Haha. Sungguh. Cintanya padamu, bermilyar-milyar lebih besar dibanding ucapan yang beribu-ribu itu. Beribu- ribu ucapan yang sering kau katakan menyayat hati.
Haha. Sungguh. Dia tidak terlihat bermaksud menyakitimu. Hanya caranya salah. Atau mungkin berbeda.
Aku mencintaimu mah. Jauh dari apa yang kau bayangkan. Apa yang kau piikirkan.
~ucapan seorang anak bermulut pendosa pada ibu yang melahirkannya~
Minggu, 31 Juli 2016
Minggu, 17 Juli 2016
Rindu
Haha. Kali ini, rindu itu tidak membentur dinding kamarku. Saat kau datang, seketika pembatas itu runtuh, dan rindu itu menyeruak,melebur bersama hembusan angin malam
Sabtu, 16 Juli 2016
despair.invisible.whisper.come true.
Lagi-lagi hujan. Hujan lagi-lagi.Hujan turun begitu deras, hingga gemricik air di teras depan rumahku tak jadi berarti. Seperti halnya semua kenangan itu. Yaa. Kenangan aku bersamanya.
Pernahku berfikir, untuk apa Tuhan memperkenalkanku padanya jika akan berakhir seperti ini?
Hm. Sekarang aku berfikir, jika aku bertanya itu, apa bedanya dengan sebuah pertanyaan, untuk apa hidup bila ujung-ujungnya kematian menjemput?
Haha. Aku tak tahu, mengapa ini bisa terjadi. Aku juga tak tahu, mengapa ini bisa terjadi dua kali dalam hidupku, haha. Lebay. Iya. Memang aku begitu lebay sampai memikirkannya.
Yang pasti, aku sudah siap. S I A P. Aku sudah di depan pintu. Aku sudah memiliki kunci. Mungkin ini maksudnya. Mungkin apa pun yang terjadi dalam hidup seseorang, kejadian yang dialami, meaning yang secara tak langsung dibuat, berkembang, memang sudah di gariskan.
Dan aku sudah siap. Aku akan menjemput semua itu. Aku akan menjemput sebab sebab aku ada di dunia, dan aku akan menjemput sesuatu bernama impian.
Sudah kembali, dengan diiringi sorak ramai gaduh rintik hujan yang semakin riuh tak berkesudah.
~marsya sataly~
Pernahku berfikir, untuk apa Tuhan memperkenalkanku padanya jika akan berakhir seperti ini?
Hm. Sekarang aku berfikir, jika aku bertanya itu, apa bedanya dengan sebuah pertanyaan, untuk apa hidup bila ujung-ujungnya kematian menjemput?
Haha. Aku tak tahu, mengapa ini bisa terjadi. Aku juga tak tahu, mengapa ini bisa terjadi dua kali dalam hidupku, haha. Lebay. Iya. Memang aku begitu lebay sampai memikirkannya.
Yang pasti, aku sudah siap. S I A P. Aku sudah di depan pintu. Aku sudah memiliki kunci. Mungkin ini maksudnya. Mungkin apa pun yang terjadi dalam hidup seseorang, kejadian yang dialami, meaning yang secara tak langsung dibuat, berkembang, memang sudah di gariskan.
Dan aku sudah siap. Aku akan menjemput semua itu. Aku akan menjemput sebab sebab aku ada di dunia, dan aku akan menjemput sesuatu bernama impian.
Sudah kembali, dengan diiringi sorak ramai gaduh rintik hujan yang semakin riuh tak berkesudah.
~marsya sataly~
Rabu, 13 Juli 2016
apalah apalah
Selamat Malam.
Malam yang panjang...
Angin berdesir kencang, seakan ingin memburu sesuatu.
Kilatan sinar bertubrukan, seakan dunia begitu gelap, minta diperhatikan.
Begitu banyak kendaraan berlalu lalang, namun tak satupun menyempatkan singgah berhenti.
Haha. Ketawa lagi. Tertawa lagi.
Apalah apalah...
Haha.
Gemricik air di teras begitu konstan. Ikan - ikan pun turut berdendang di dalamnya. Bagaikan sebuah alunan merdu nan indah.
Haha.
Bukankah dunia ini lucu?
Yang berkuasa hampir selalu menang.
Yang berada di lantai tinggi, hampir selalu seakan menginjak apapun yang di bawahnya.
Banyak yang semena-mena. Namun apabila keadaan membalik, ia lantas tak terima. Haha.
Apalah apalah.
Bukankah dunia ini lucu?
Ketika semua hal menjadi rahasia umum. Ketika hampir semua hal yang tak patut, menjadi panutan. Ketika semua ilmu, menjadi asing, ketika seseorang menjadi berbeda.
Haha. Apalah apalah.
Ada yang melawan dengan egonya. Ada pula yang diam tak melakukan apa-apa. Ada pula yang diam-diam memikirkannya. Ada pula yang melakukan ini itu, dan ada pula yang acuh tanpa menoleh. Haha.
Dunia ini lucu. Penuh dengan beragam makhluk. Apakah semua harus disamakan?
Lantas. Apalah apalah itu mau diapakan? Mau dikemanakan?
Haha. Dunia ini tidak memperlukan omong kosong. Apapun yang terjadi padamu, dunia tak memikirkan. Siapa kau?
Haha. Apalah apalah.
Berakhir dengan apa?
Malam yang panjang...
Angin berdesir kencang, seakan ingin memburu sesuatu.
Kilatan sinar bertubrukan, seakan dunia begitu gelap, minta diperhatikan.
Begitu banyak kendaraan berlalu lalang, namun tak satupun menyempatkan singgah berhenti.
Haha. Ketawa lagi. Tertawa lagi.
Apalah apalah...
Haha.
Gemricik air di teras begitu konstan. Ikan - ikan pun turut berdendang di dalamnya. Bagaikan sebuah alunan merdu nan indah.
Haha.
Bukankah dunia ini lucu?
Yang berkuasa hampir selalu menang.
Yang berada di lantai tinggi, hampir selalu seakan menginjak apapun yang di bawahnya.
Banyak yang semena-mena. Namun apabila keadaan membalik, ia lantas tak terima. Haha.
Apalah apalah.
Bukankah dunia ini lucu?
Ketika semua hal menjadi rahasia umum. Ketika hampir semua hal yang tak patut, menjadi panutan. Ketika semua ilmu, menjadi asing, ketika seseorang menjadi berbeda.
Haha. Apalah apalah.
Ada yang melawan dengan egonya. Ada pula yang diam tak melakukan apa-apa. Ada pula yang diam-diam memikirkannya. Ada pula yang melakukan ini itu, dan ada pula yang acuh tanpa menoleh. Haha.
Dunia ini lucu. Penuh dengan beragam makhluk. Apakah semua harus disamakan?
Lantas. Apalah apalah itu mau diapakan? Mau dikemanakan?
Haha. Dunia ini tidak memperlukan omong kosong. Apapun yang terjadi padamu, dunia tak memikirkan. Siapa kau?
Haha. Apalah apalah.
Berakhir dengan apa?
Langganan:
Komentar (Atom)